Ilustrasi. Foto: Medcom.id.
Ilustrasi. Foto: Medcom.id.

Rancang Kebijakan IHT, Pemerintah Diminta Berpihak ke Pekerja

Ekonomi Tenaga Kerja BPS Kementerian Perindustrian cukai tembakau pandemi covid-19 Industri Hasil Tembakau
Husen Miftahudin • 27 April 2022 15:46
Jakarta: Pemerintah diminta bersikap independen dan memperhatikan kesejahteraan para petani tembakau serta pekerja dalam mengambil kebijakan terkait Industri Hasil Tembakau (IHT). Pasalnya, IHT telah memberikan kontribusi yang besar bagi negara.
 
Anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa DPR Nur Nadlifah mengatakan, saat ini banyak pihak yang mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan yang mengancam keberlangsungan IHT melalui kampanye-kampanye hitam antitembakau. Padahal, seringkali kampanye tersebut dilakukan tak berdasar dan tanpa data.
 
"Dorongan ini akan mematikan IHT karena tujuan mereka adalah menghancurkan keberadaan tembakau dengan menggencarkan berbagai tuduhan yang belum tentu faktual dan bahkan menyudutkan, seakan-akan industri ini adalah sebuah dosa besar. Hal tersebut sangat tidak pantas mengingat jutaan masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada industri ini," ujar Nur dalam keterangan tertulis, Rabu, 27 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nur meminta pemerintah mampu untuk tidak diintervensi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan tetap menjaga independensi. Sebab tekanan di satu sisi akan berdampak pada seluruh ekosistem industri, sehingga pemerintah harus memegang teguh netralitas dalam proses penyusunan kebijakan.
 
Menurut Nur, kampanye-kampanye hitam tersebut sangat memprihatinkan dan menyakiti hati jutaan rakyat yang menggantungkan nasibnya pada IHT, termasuk para petani dan pekerja. Padahal, industri ini telah membantu negara melalui penyerapan tenaga kerja.
 
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pada 2019, IHT telah menyerap sebanyak 5,98 juta tenaga kerja. Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun yang sama juga menyebutkan bahwa 89 persen dari seluruh pekerja di sektor pengolahan tembakau adalah pekerja perempuan, yang mayoritas adalah lulusan SD atau SMP.
 
Kepiawaian ibu-ibu pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) merupakan keahlian yang unik dan berperan besar dalam proses produksi. Setiap pekerja mampu melinting 3.000-3.500 SKT per hari.
 
Pada awalnya, banyak pekerja yang memilih profesi ini untuk menambah pendapatan rumah tangga dan mendukung perekonomian keluarga. Pada saat pandemi menghantam Indonesia, para pekerja perempuan ini justru menjadi andalan keluarga.
 
Nur juga menambahkan bahwa kontribusi IHT terhadap negara tidak hanya sebatas penyerapan tenaga kerja, akan tetapi juga penerimaan negara melalui Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang diandalkan pemerintah, khususnya di kala perekonomian negara melambat akibat pandemi dan saat ini sedang berupaya untuk pulih. Pada 2021 saja, IHT menyumbang senilai Rp188,81 triliun ke pendapatan negara melalui cukai.
 
"Kontribusinya besar sekali kepada negara. Oleh karena itu, pemerintah diminta hati-hati mengambil kebijakan terkait industri ini. Jangan sampai ada intervensi dari pihak tertentu. Pemerintah harus berpihak ke petani dan pekerja, apalagi pekerja linting SKT," pungkas Nur.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif