NEWSTICKER
Ilustrasi industri tekstil. Foto: dok Kemenperin.
Ilustrasi industri tekstil. Foto: dok Kemenperin.

Industri Tekstil Sulit Bertahan Tanpa Stimulus

Ekonomi industri tekstil
Ilham wibowo • 23 Maret 2020 16:14
Jakarta: Sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Tanah Air mengalami penurunan kinerja serapan produksi dalam 10 hari terakhir lantaran dampak virus korona atau covid-19. Kondisi yang belum jelas kapan bakal berakhir ini membuat pelaku usaha pertekstilan sulit untuk mencapai target pertumbuhan.
 
Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa S mengatakan bahwa virus korona dalam 10 hari terakhir sangat berpengaruh besar hingga menganggu perdagangan ekspor maupun pasar domestik. Padahal, dalam enam bulan ke belakang industri ini sempat mengalami tren kenaikan sebelum akhirnya covid-19 dinyatakan WHO sebagai pandemi global.
 
"Kami harap dapat dipertimbangkan oleh pemerintah untuk mempertahankan operasional industri TPT dan menghindari gelombang PHK karena kontraksi ekonomi akibat covid-19," kata Jemmy melalui video conference, Senin, 23 Maret 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasar yang tengah freeze atau terhenti ini telah membuat pembayaran, permintaan barang hasil produksi jadi terhambat. Wabah virus korona terjadi secara masif dan serentak.
 
"Fenomena ini memberi dampak yang tidak menggembirakan terhadap optimalisasi industri secara ekstrem dan secara simultan akan berdampak pada produktivitas dan siklus ekonomi TPT," paparnya.
 
Sejumlah rekomendasi relaksasi, kata Jemmy, telah disusun untuk bisa menjadi pertimbangan Pemerintah untuk mempertahankan operasional industri tetap berjalan. Perlindungan tarif produk impor agar mengedepankan produk lokal mesti dipermudah dan jadi fokus inisiasi Pemerintah.
 
"Pengetatan verifikasi dalam pemberian persetujuan impor TPT agar izin dibuat hanya benar-benar sebagai bahan baku industri dengan pertimbangan memenuhi kapasitas produksi dalam negeri terlebih dahulu," tuturnya.
 
Di sektor energi, lanjut dia, penurunan harga gas industri menjadi USD6 per MMBTU juga perlu dipercepat dengan kurs pada saat regulasi keluar yakni Rp14 ribu per USD. Selain itu, intervensi juga perlu dalam penundaan pembayaran tarif listrik PLN untuk industri selama enam bulan ke depan.
 
"Pembayaran tarif PLN dengan cicilan berupa tenor mundur 12 bulan, pemberian diskon tarif beban untuk pukul 22.00 sampai 04.00," ungkapnya.
 
Sektor lingkungan hidup juga diminta jadi perhatian Pemerintah dengan segera mencabut peraturan bottom ace dan limbah B3. Menurut Jemmy, hal ini perlu dilakukan menimbang di negara lain tidak dikategorikan sebagai limbah berbahaya dan dimanfaatkan negara lain sebagai bahan baku batako dan lapisan jalan.
 
"Segera merevisi peraturan pengetatan baku mutu limbah cair dengan pertimbangan benchmark perbandingan yang diperlakukan oleh negara lain termasuk negara maju sekalipun tidak seketat yang berlaku di Indonesia. Hal ini menjadi beban tambahan untuk daya saing produsen dalam negeri," pungkasnya.

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif