Enggartiasto Lukita. FOTO: MI/SUSANTO
Enggartiasto Lukita. FOTO: MI/SUSANTO

Wawancara Khusus

Enggartiasto Lukita Bicara Covid-19

Ilham wibowo • 29 April 2020 10:01
VIRUS korona atau memiliki nama lain covid-19 telah menyebar luas di seluruh dunia. Wabah ini telah menginfeksi 3,05 juta orang di seluruh dunia termasuk di Indonesia, dan menewaskan 211.350 orang. Namun, hingga kini jumlah pasien yang sembuh dari virus mematikan itu juga bertambah menjadi 896.669.
 
Khusus di Indonesia, jumlah kasus positif covid-19 terdapat penambahan baru sebanyak 415 atau mencapai 9.511 pasien per Selasa, 28 April 2020. Pasien yang sembuh bertambah 103 orang dan diperbolehkan pulang. Total pasien sembuh per hari ini mencapai 1.254 orang.
 
Jumlah korban jiwa menurun ke angka satuan dalam sehari. Sebanyak delapan orang dinyatakan meninggal karena virus korona per 28 April 2020 dengan total mencapai 773 orang. Sedangkan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bertambah 441 orang menjadi 20.428 orang. Jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah 3.445 orang dan menjadi 213.664 orang.

Selain menginfeksi orang, covid-19 juga 'menjangkit' aktivitas perekonomian. Adapun pemerintah yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus korona ternyata memicu masalah baru, terutama yang berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat.
 
Tidak ditampik, virus mematikan itu membuat sejumlah bisnis gulung tikar yang berdampak terhadap Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meski beberapa pelaku bisnis mengaku memilih merumahkan para pekerjanya. Pada titik ini, bantuan dari pemerintah atau insentif yang diberikan menjadi penting agar angka pengangguran dan kemiskinan tidak melesat.
 
Meski demikian, bukan berarti segala sesuatunya ditimpakan seluruhnya kepada pemerintah. Bagi mereka yang mampu tidak ada salahnya ikut membantu meringankan mereka yang membutuhkan karena terpapar covid-19. Di sini, Enggartiasto Lukita, pengusaha yang juga mantan Menteri Perdagangan, mengajak para pengusaha turun tangan di tengah covid-19.
 
Lantas, apa saja yang dilakukan Menteri Perdagangan periode 2016-2019 itu di tengah pandemi covid-19 di Indonesia, dan bagaimana Enggar beserta teman-teman pengusahanya membantu masyarakat yang membutuhkan di tengah covid-19, berikut kutipannya dari wawancara yang dilakukan Ilham Wibowo dari Medcom.id kepada Enggartiasto Lukita.


Apa yang dilakukan Pak Enggar dengan mengajak pengusaha untuk membantu pemerintah dalam penanggulangan covid-19?

Virus korona tidak ada satu pun orang atau negara di dunia ini yang siap. Kita lihat juga trennya di seluruh dunia termasuk Indonesia itu meningkat dengan tajam. Nah ada beberapa hal yang pasti alat perlengkapan seperti APD (Alat Pelindung Diri) dan keseluruhannya mulai dari masker kemudian sarung tangan, terutama ini untuk para pahlawan di garda terdepan, petugas medis, dokter dan segala macam yang berjatuhan, itu jauh dari cukup dan memang tidak siap. Dan tidak ada satu pun negara yang mempersiapkan, negara-negara lain pun berebut untuk itu, mereka semua memproteksi izinnya untuk tidak melakukan ekspor atau membatasi ekspor dengan pendekatan tertentu sehingga itu mereka mau membagi itu tampak sekali.
 
Nah apakah kita mau berdiam diri di saat semua orang sibuk, semua orang melihat juga untuk dirinya sendiri, para pengusaha juga berpikir bagaimana dia bisa survive dengan ini semua. Saya mengetuk hati dari para pengusaha besar kecil, pedagang, dan pengusaha yang saya kenal baik dalam maupun luar negeri mengajak bersama. Mereka bisa jalankan sendiri, ada yang bilang 'kalau begitu tolong dibantu bagaimana caranya', kemudian saya bantu bersama Yayasan Sehati, ada dua kawan saya di situ untuk sama-sama koordinir ini.
 
Ini adalah urusan kemanusiaan. Ini adalah bagaimana membangun solidaritas membangun anak bangsa. Memang kita memerlukan kepedulian di saat-saat seperti ini. Ada yang mengatakan kami sudah bantu dan kami sudah melakukan tapi biar grup sendiri yang melakukan. Kita lihat Tanoto Foundation melakukan impor besar-besaran. Cukup banyak pengusaha yang memberikan ratusan juta tapi tidak mau disebutkan namanya dan biar untuk membantu lakukan itu.
 
Dengan pemberitaan kemarin banyak juga pengusaha yang tergerak mau melakukan atau update kepada saya meraka telah melakukan pembagian sembako kepada masyarakat. Semua itu membuat saya bahagia lah di tengah suasana seperti ini. Kita tidak mungkin berdiam diri, dalam kondisi normal saja pada saat saya menjabat menteri perdagangan, pada waktu itu di tengah menghadapi bulan suci Ramadan, selain pengendalian harga jauh-jauh hari sebelumnya memastikan barang itu ada. Saya selenggarakan pasar murah secara masif.
 
Darimana apakah dari APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)? Tidak, itu dari pengusaha yang saya ketuk hatinya dan saya juga ajak mereka turun, pemiliknya atau direksinya untuk saksikan bagaimana masyarakat kecil yang membutuhkan itu mensyukuri nikmat yang kita bagi.
 
Saya tidak lupa ajak direksi Astra, misalnya, kebetulan saya sangat bersahabat dengan direksinya untuk turun. Kita jual paket sembako senilai Rp150 ribu lalu dijual Rp50 ribu dan hasilnya kemudian diserahkan kepada pesantren yang menyelenggarakan atau masyarakat di sekitar situ atau yayasan yatim piatu dan sebagainya, itu mereka yang serahkan dan kami kami fasilitasi. Dan mereka sambil berlinang air mata, mereka bisa terlibat membagi apa yang bisa kita berikan, demikian juga menjelang Natal dan sebagainya, di daerah juga kita lakukan masif.
 
Melibatkan hal seperti ini dalam kondisi normal saja mereka mau dan bisa digerakkan, apalagi dalam situasi seperti seperti ini. Apakah ini situasi yang mudah dihadapi para pengusaha? Tidak. Para pengusaha mengalami kesulitan yang berat sekali. Beda dengan situasi normal pada saat kita melakukan pasar murah, misalnya, tapi mereka pun masih bisa.
 
Pada saat kita sentuh, kita telepon untuk dihubungi dan kita bicarakan kondisi masyarakat saat ini, baca di media massa dan coba saksikan, tidak bijak kita berdiam diri, mereka mau melakukan semua itu, mereka sampaikan telah membantu karyawannya itu juga bagus dan kita harus gotong royong.
 
Ini keterpanggilan dan sebenarnya sudah agak lama saya lakukan. Terus kita lakukan bertahap. Kita masukan tim saya melaporkan kepada BNPB, minta izin kepada Bea Cukai dan kita bilang ini tidak komersial dan tidak dikomersialkan dan betul-betul dipersiapkan sebagai bantuan sumbangan.
 
Saya apresiasi sikap BNPB, Bea Cukai, dan Kementerian Kesehatan yang berikan berbagai kemudahan dan dari kemudahan ini kami mendapatkan tanda terima dan lakukan semua itu. Kita jalankan dan akan kita lakukan terus utuk semua yang dibutuhkan.
 

Sampai kapan bantuan solidaritas kemanusiaan ini akan dilakukan?

Akan terus dilakukan sampai dibutuhkan. Saya melihat bahwa semua itu masih butuh banyak, sambil menunggu kesiapan dari produksi lokal. Sekarang produksi dalam negeri ada kendala yang tidak siap yaitu ini dampak negatif dari global supply chain yakni ketergantungan satu dengan yang lain. Kita yang biasanya diorder sebagai tukang jahit dengan sebagian bahan baku dikirim dan kita tidak mempersiapkan diri untuk mengundang mereka memproduksi bahan baku itu di sini.
 
Pada waktu saya menteri, dalam sidang kabinet, Bapak Presiden telah memberikan arah dan garis yang jelas untuk mempersiapkan bahan baku itu dibikin di sini, kita belum siap dan perlu dibikin di sini.
 
Dan itu lah sebabnya, saya keluar (konteks) sedikit, Presiden memerintahkan saya untuk melakukan berbagai perjanjian perdagangan, investasi, dan kemudahan. Mereka tidak mau bikin pabrik di sini kalau tidak diberikan kemudahan dan lebih murah untuk berbagai hal dilakukan di negara lain misalnya. Kaitannya diperlukan omnibus law karena ini circle yang besar.
 
Baik lagi ke tadi, bahan bakunya harus impor dan mereka pun membatasi untuk mengirim. Jadi harus dilakukan pendekatan pendekatan dari G to G sampai ke B to B. Saya mempunyai jaringan dan saya kebetulan memiliki (jaringan), selama penugasan baik kapasitas saya sebagai pengusaha dan pada waktu itu sebagai pembantu presiden memanfaatkan itu secara positif. Saya hubungi, kalau dia alami kendala dari B to B ada restriksi saya telpon kepada pejabatnya. Mari kita berbagi dan mari kita lakukan ini.
 
Tidak mungkin saya melakukan ini bisa masukan barang-barang itu, di sini mudah tidak ada soal karena ini untuk kemanusiaan dan untuk bantuan. Mengirim barang dari sana menjadi soal karena mereka terbatas dan berebut, seluruh dunia berebut, itu sendiri bukan sesuatu pekerjaan yang dikira mudah belanja di pasar, barang ada tetapi harga gila-gilaan. Nah ini jaringan hubungan persahabatan yang terjalin kita manfaatkan secara positif yang pada saatnya nanti mereka pun akan menolong. Itu lah hidup manusia di dunia ini saling tolong-menolong, jadi saya bilang oke.
 

Bagaimana dengan dorongan pemerintah untuk pengusaha dalam menghadapi covid-19?

Cukup mereka, tidak mungkin dijangkau semuanya. Kita saksikan Kadin Indonesia, Ketua Umum Kadin dan semua jajarannya melaksanakan itu juga. Siapapun dalam bentuk apapun terus lah bangkit, jangan lelah, jangan merasa sudah cukup karena banyak yang kerja, justru ini semua kurang dan mari terus.
 
Kita tidak bisa andalkan kepada pemerintah dan itu sangat tidak fair, tidak bijak. Sekarang bilang pemerintah tugas ini dari APBN, darimana uangnya? Darimana? Mereka juga punya keterbatasan kemampuan untuk menjangkau semuanya. Kemudian mengandalkan pengusaha tertentu juga tidak fair.
 
Siapapun, mereka yang mau membantu di lingkungannya untuk sembako dan makanan sehari-hari dan segala macam itu semua kita hormati dan lakukan lah itu. Pesan moral yang ingin saya sampaikan dan ketuk hati mereka agar semuanya sama-sama bergotong-royong untuk itu.


Beralih ke isu lain. Pak Enggar sebagai pengusaha dan politikus, apa lagi yang harus dilakukan dari sisi ekonomi guna meminimalisir bertambahnya pengangguran dan kemiskinan dampak covid-19?

Ini yang sangat sulit dan kita harus sadari betul bahwa situasi seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini lebih berat dari 1997-1998, bahkan berbagai analisis menyatakan ini seperti menghadapi great depression dan sebagainya. Kita tidak pernah merasakan dan situasinya berbeda dengan saat ini. Ada perubahan pola hidup atau kebiasaan hidup setiap orang di dunia. Jadi kita ini harus betul-betul meraba, kita ini di dunia usaha meraba betul.
 
Ambilah contoh saya di perhotelan, theme park, dan segala macam kami meraba betul. Kami memperkirakan betul ini bagaimana, apa yang harus kita lakukan dengan sampai ditemukannya vaksin. Jadi sekarang ini semua pengusaha berpikir selamat untuk usahanya itu. Saya ambil contoh hotel saya sebagian besar saya tutup dan kita lihat juga yang lain terpaksa harus tutup.
 
Nah kemudian apa yang terjadi dengan itu? Subsidi kita keluarkan karena tidak mungkin kita tidak membayar biaya langganan listrik sekalipun kita tutup karena biaya abodemen minimal itu harus kita bayar. Security dan karyawan saya juga mencoba semaksimal mungkin, yang besar dipotong lebih besar dan yang kecil dipotong lebih kecil, sampai berapa bulan kami bisa selamat?
 
Pemerintah memberikan stimulus, itu luar biasa, hanya yang diperlukan adalah implementasinya saja. PPh 21 dibebaskan kita apresiasi tetapi tidak akan memberikan dampak pada saat karyawan itu dirumahkan atau diberhentikan karena pengusaha juga tidak sanggup membayar itu semua. Kemudian berbagai stimulus itu yang harusnya implemented, yang harusnya bisa disampaikan dan ini harus benar-benar all out semuanya, karena kita harus bisa menjaga untuk selamat.
 
Pada saat dia kembali situasinya maka kita sudah harus bersiap. Kapan bisa baliknya itu? Tidak ada satupun yang tahu. Semua berdasarkan harapan dan perkiraan saja. Kita berharap sesuai dengan prediksi, misalnya, Juni ini sebanyak 97 persen selesai, ya kata orang mengatakan cross your finger. Kita berharap untuk bisa seperti itu, tetapi tidak akan segera pulih dengan jumping atau loncat seperti itu. Nah negara di dunia dan industrinya, ini pengalaman, mereka akan mementingkan dirinya sendiri. Jadi ini lah yang harus bersiap betul menghadapi situasi ini.
 
Kalau kita semua masih berpikir bussiness as usual saja, saya takut betul. Dan angka pengangguran akan semakin meningkat apalagi ada resistensi orang dan seluruhnya curiga ini pemerintah membahas omnibus law untuk apa kemudian Perppu yang diluncurkan berbagai syarat dan muatan. Semua kalau dalam kondisi normal saya setuju itu dilihat, tapi situasi tidak normal. Saya mau ajak percayakan lah kepada pemerintah dan Presiden yang menyelenggarakan negara ini. Jangan berpikir negatif segala macam dan curiga, karena kalau bussines as usual ini saya akan takut.
 

Sektor UMKM menjadi sektor yang paling terdampak. Apakah kebijakan stimulus sudah tepat?

Pada 1998-1998 UMKM menjadi penopang, setiap orang yang tidak kerja kemudian dia bikin warung. Sekarang dari atas sampai UMKM terkena semuanya. Betul UMKM paling terdampak karena kemampuan dia bertahan sangat terbatas, berbeda dengan perusahaan besar yang mampu bertahan, tetapi tidak bisa dikatakan tidak terdampak. Ambil contoh utang mereka berapa banyak, dan karyawan mereka berapa banyak. Persoalannya adalah hanya mereka mampu lebih bertahan hidup dibandingkan dengan UMKM yang hari ini terkena dan hari ini terdampak.
 
Menurut saya sampai saat ini bantuan pemerintah jadi andalan untuk mereka hidup. Berbagai stimulus ini kami mohon kepada OJK untuk memantau secara detail dan on the spot langsung dilaksanakan. Bagaimanapun juga Presiden menyampaikan debt collector tidak boleh mengambil barang, untuk itu ditindak dan tidak boleh mereka lakukan itu.
 
Mereka bukan tidak mau bayar, saya tanya berapa NPL kredit mereka yang kecil- kecil itu? Rendah kok. Tidak mungkin untuk mereka, you jalan mereka beli itu enggak, sulit UMKM itu, market terbatas dan semua tertutup.
 
Dengan PSBB ini mari kita kencangkan ikat pinggang kita, kita stay at home, ya sudah artinya pasarnya turun semua. Artinya seluruh dunia ekspornya juga turun. UMKM lepaskan mereka dari berbagai beban, itu dulu.
 
Pemerintah memberikan bantuan baik itu sembako dan sebagainya. Saya tidak tahu bagaimana kontroversi terkait pelatihan dan saya tidak mau masuk ke situ. Tidak etis saya sebagai mantan pejabat mengomentari kebijakan. Silakan saja dilakukan dan evaluasi. Poinnya adalah berikan agar mereka bisa tetap hidup yang nanti bisa disiapkan lagi stimulus sesaat ini, pada saatnya mulai kembali mendapatkan perhatian.
     

Bagaimana dengan tanggapan konsep prakerja yang ada saat ini?

Ada pro kontra yang cukup banyak. Pak Menko mengatakan bahwa itu tetap berjalan tetapi apakah prakerja itu secara konsep pelatihan tepat atau tidak, saya tidak mau masuk ke wilayah itu lebih lanjut.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan