Ilustrasi Garuda Indonesia - - Foto: Medcom/ Farhan
Ilustrasi Garuda Indonesia - - Foto: Medcom/ Farhan

Utang Jatuh Tempo, Garuda Minta Jaminan Perbankan

Ekonomi Garuda Indonesia perbankan Himbara
Suci Sedya Utami • 29 April 2020 15:49
Jakarta: PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk meminta jaminan perbankan untuk utang jatuh tempo yang sebesar USD500 juta. Pasalnya, pendapatan perseroan tergerus imbas pandemi covid-19.
 
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan jaminan tersebut berupa pendanaan (financing) pada perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk menambal pendanaan dan cashflow Garuda.
 
"Kita punya sedikit masalah bulan ini ada kewajiban jatuh tempo sekitar USD500 juta (di Juni), sehingga kita perlu bantuan dan jaminan keuangan dari pihak perbankan," kata Irfan dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu, 29 April 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Irfan pun telah berbicara dengan himpunan bank-bank milik negara (Himbara) terkait jaminan pendanaan tersebut. Namun, perbankan perlu mengkaji lebih mendalam terkait terkait kelangsungan bisnis Garuda tersebut.
 
"Kita sudah diskusi berulangkali, kita pakai Mandiri Sekuritas sebagai advisor kita,. Beberapa hal sedang kita finalisasi dengan bank Himbara, tutur dia.
 
Lebih lanjut, berbagai langkah efisiensi sudah dilakukan maskapai pelat merah ini. Di antaranya menunda pembayaran gaji, insentif tahunan serta tunjangan bagi karyawan, direksi dan komisaris.
 
Selain itu, pihaknya juga menunda pembayaran pada pihak ketiga. Garuda mencatat pada kuartal I 2020 terjadi penurunan pendapatan operasional sebesar 33 persen akibat penururan penumpang dan larangan terbang pesawat komersil.
 
"Pukulan besar bagi Garuda ini di sisi cash, rencana awal tahun yang kita harapkan meneruskan hasil positif tahun lalu namun demikian terhenti karena covid," tutur Irfan.
 
Penurunan pendapatan operasional ini terutama diakibatkan oleh menurunnya pendapatan penumpang yang kontribusinya mencapai lebih dari 80 persen terhadap total pendapatan usaha.
 
Ia menambahkan penurunan pendapatan penumpang kuartal I-2020 disebabkan karena menurunnya jumlah penumpang dan harga tiket per penumpang yang turun dari kuartal I-2019.
 
"Kita akan lihat penurunan makin drastis menjelang lebaran dengan adanya aturan Permenhub 25," jelas Irfan.
 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif