Ilustrasi. Foto: listsurge
Ilustrasi. Foto: listsurge

Kenaikan Cukai dan Harga Jual Rokok Tidak Efektif Turunkan Perokok Dini

Ekonomi industri rokok cukai tembakau stunting
Husen Miftahudin • 22 Oktober 2020 11:44
Jakarta: Hasil penelitian Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya menyimpulkan kebijakan kenaikan harga rokok, baik melalui kenaikan Harga Jual Eceran (HJE) maupun kenaikan cukai rokok tidak efektif menurunkan jumlah perokok usia dini dan prevalensi stunting.
 
Faktor utama penyebab perokok dini adalah lingkungan di dalam dan luar rumah, keingintahuan anak, pengendali stres yang diikuti dengan tingkat pendidikan orangtua yang rendah.
 
"Faktor yang menyebabkan banyaknya jumlah perokok usia dini antara lain tingkat pendidikan orang tua khususnya ayah yang rendah, serta adanya anggota keluarga yang merokok," papar anggota peneliti PPKE Universitas Brawijaya Imanina Eka Dalilah dalam keterangannya, Kamis, 22 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Anggota peneliti PPKE Universitas Brawijaya lainnya, Joko Budi Santoso menjelaskan Industri Hasil Tembakau (IHT) memiliki peran penting dalam menyumbang penerimaan negara melalui cukai hasil tembakau yang mencapai lebih dari Rp150 triliun per tahun selama lima tahun terakhir. Selain itu, IHT yang bersifat padat karya mampu menyerap jutaan tenaga kerja dalam rantai produksi maupun distribusi.
 
Meski demikian, sebutnya, keberlangsungan IHT terus mendapat tekanan melalui berbagai aturan pengendalian konsumsi dan penerimaan negara. Ketatnya regulasi dan kebijakan kenaikan tarif cukai berdampak pada penurunan volume produksi dan juga penurunan pabrikan rokok.
 
Berdasarkan data yang dipaparkannya menunjukkan bahwa volume produksi selama periode 2016-2018 turun sebanyak 4,59 persen dan jumlah pabrik rokok dari 4.793 perusahaan pada 2007 menjadi 487 perusahaan di 2017. Di samping itu, isu harga rokok yang terlalu murah juga mendorong peningkatan prevalensi merokok pada anak usia dini.
 
Di tengah terjadi penurunan volume produksi dan jumlah pabrikan rokok yang signifikan, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan angka prevalensi perokok usia di atas 10 tahun di Indonesia mengalami penurunan dari 29,3 persen pada 2013 menjadi 28,8 persen pada 2018.

 
"Akan tetapi, penurunan volume produksi rokok dan penurunan jumlah pabrikan rokok yang besar ternyata berbanding terbalik dengan jumlah perokok usia dini. Fakta ini menjadi indikasi awal bahwa kebijakan kenaikan tarif tidak selalu linier dengan perspektif teori yang digunakan, oleh karenanya perlu kajian lebih mendalam terkait penyebab meningkatnya perokok usia dini di Indonesia," jelasnya.
 
Di sisi lain, penurunan volume produksi rokok dan penurunan jumlah pabrikan rokok yang signifikan justru membuat jumlah perokok usia dini meningkat dari 7,2 persen di 2013 menjadi 9,1 persen di 2018. Hal ini mengindikasikan kebijakan pemerintah melalui kenaikan harga rokok berpotensi tidak efektif menurunkan jumlah konsumsi rokok. "Kebijakan tersebut justru dapat mengancam keberlangsungan IHT yang memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional," ungkapnya.
 
Menurut Joko, jika kenaikan dan simplifikasi cukai tetap dipaksakan, maka kerugian akan ditanggung semua pihak. Hasil dari kenaikan cukai adalah meningkatnya rokok ilegal. "Negara tidak mendapat penerimaan, pasar rokok legal tergerus, terjadinya potensi PHK karyawan, dan konsumen tidak mendapat jaminan mengenai mutu produk ilegal," pungkasnya.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif