Apalagi sejak pembatasan kegiatan masyarakat dan kewajiban bekerja dari rumah (work from home/WFH) serta sekolah secara daring. Ditambah lagi aktivitas mengisi waktu dengan bermain games maupun menonton film terbaru secara online mendorong lonjakan kebutuhan telepon seluler.
Hal ini tercermin dari persentase penduduk yang menggunakan telepon seluler yang mencapai mencapai 167 juta orang atau 89 persen dari total penduduk Indonesia pada 2020.
Kondisi tersebut membuka peluang usaha baru, khususnya penjualan aksesoris telepon genggam dengan bermodalkan Rp10 juta saja. Meski demikian, memulai bisnis bukanlah perkara mudah di tengah semakin berkembangnya teknologi.
"Perkembangan zaman juga menuntut setiap produsen produk aksesoris gadget untuk menghadirkan produk terkini dan modern," ujar Public Relation perusahaan yang bergerak di bidang produksi produk elektronik OASE Anthoni Roderick dikutip Senin, 19 Juli 2021.
Menurut Anthoni, dibutuhkan peralatan penunjang bisnis yang tepat misalnya alat yang mampu memotong atau mencetak lapisan pelindung layar yang mudah disesuaikan dengan bentuk, ukuran dan tipe gadget yang dibutuhkan konsumen.
Salah satunya seperti yang ditawarkan OASE Indonesia. Perusahaan yang bergerak di bidang produksi produk elektronik yang terdiri dari aksesoris smartphone, audio, hingga produk IoT. Produk ini sangat menguntungkan penjual karena tidak perlu menyediakan stok anti gores dari berbagai macam produk.
Sebuah mesin permotong serbaguna yang diciptakan untuk memotong pelindung layar maupun garskin body untuk hampir semua merk dan tipe gadget masa kini seperti smartphone, smartwatch, TWS, camera, hingga vape dan pod, alias lebih dari 5.000 jenis device, dan dengan berbagi jenis film pula.
"Soal keuntungan sendiri, hanya dari produk ini saja, toko mendapatkan profit hingga 200-300 juta rupiah perbulan, padahal hanya dengan modal awal tidak sampai 10 juta rupiah," tambah dia.
Data Kementerian Perindustrian menunjukkan rata-rata utilisasi industri meningkat sebesar 56,5 persen selama pandemi. Peningkatan utilisasi terjadi pada beberapa sektor yakni industri percetakan (40 persen), Industri bahan kimia (68 persen), industri logam dasar (38 persen), industri komputer dan barang elektronik (55 persen), industri alat angkutan lainnya (45,2 persen) dan industri furnitur (47 persen).
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News