Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pemulihan masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam media briefing program Industri Social Responsibility (ISR) “Kebaikan Berkelanjutan” NTT, yang digelar Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bersama Yayasan Benih Baik pada Senin, 19 Oktober 2026, pemulihan pascabencana menjadi perhatian utama.
Founder Yayasan Benih Baik, Andi F. Noya, menyoroti bahwa perhatian terhadap korban bencana sering kali berkurang setelah beberapa minggu. Padahal, kebutuhan masyarakat tidak berhenti ketika bantuan darurat mulai surut.
“Banyak orang atau banyak teman-teman yang kemudian merasa bahwa uluran tangan itu cukup atau berhenti pada ketika fisik bangunan itu atau kebutuhan-kebutuhan itu sudah terlihat diterima dan dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurut Andi, masyarakat terdampak bencana masih membutuhkan pendampingan setelah masa darurat berakhir. Kerusakan tempat tinggal dan lingkungan dapat membuat warga kehilangan sumber penghasilan, sehingga proses pemulihan ekonomi keluarga membutuhkan waktu lebih panjang.
Dalam konteks NTT, akses air bersih menjadi salah satu kebutuhan yang diprioritaskan. Andi menyebut, persoalan air sudah dihadapi masyarakat setempat bahkan sebelum bencana terjadi.
“Tidak ada bencana saja, NTT punya masalah dengan air. Apalagi ketika ada bencana,” kata Andi.
Melalui program ISR “Kebaikan Berkelanjutan”, AAJI bersama 19 perusahaan anggota berkolaborasi untuk membantu masyarakat terdampak. Bantuan yang direncanakan mencakup penyediaan akses air bersih melalui pembangunan sumber bor, serta dukungan perlengkapan sekolah bagi anak-anak.
Bantuan kebutuhan dasar tersebut diharapkan dapat membantu warga menjalani kembali aktivitas sehari-hari. Pasalnya, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan, tetapi juga perlu memastikan masyarakat memiliki akses terhadap kebutuhan dasar dan kesempatan untuk kembali produktif.
Anak-Anak Perlu Kembali Belajar, Keluarga Juga Perlu Bersiap Menghadapi Risiko
Selain kebutuhan air bersih dan ekonomi, pendidikan anak menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana. Anak-anak yang terdampak gempa dapat mengalami tekanan emosional, sementara kondisi sekolah dan keterbatasan perlengkapan belajar berpotensi mengganggu kegiatan pendidikan mereka.
Andi menilai kembalinya anak-anak ke sekolah menjadi salah satu bagian penting dalam proses pemulihan. Karena itu, dukungan berupa perlengkapan sekolah diharapkan dapat membantu mereka kembali menjalani rutinitas belajar.
Di sisi lain, bencana juga menjadi pengingat bahwa kondisi finansial keluarga dapat berubah sewaktu-waktu. Kepala Departemen Marketing AAJI, Karin Zulkarnaen, menjelaskan bahwa bencana dapat berdampak terhadap pekerjaan, tempat tinggal, hingga kondisi keuangan keluarga.
“Yang kita bisa lakukan adalah menyiapkan keadaan finansial kita sehingga jika kejadian, kita bisa terbantu oleh polis asuransi untuk menjadi buffer dalam keadaan finansial keluarga,” ujar Karin.
Menurut Karin, perlindungan finansial dapat dilakukan melalui berbagai jenis asuransi, sesuai kebutuhan dan manfaat yang ditawarkan. Asuransi jiwa, misalnya, memberikan manfaat ketika tertanggung meninggal dunia, sedangkan asuransi kesehatan dapat membantu menanggung biaya perawatan sesuai ketentuan polis.
Perlindungan terhadap kerugian juga dapat berperan dalam proses pemulihan setelah bencana, bergantung pada cakupan pertanggungannya. Program ISR “Kebaikan Berkelanjutan” turut mencakup penyerahan 50 polis asuransi mikro kepada tenaga kesehatan puskesmas, guru, dan kelompok penerima lainnya.
Bagi masyarakat, pengalaman pascabencana menunjukkan pentingnya mempersiapkan kondisi keuangan sekaligus memahami perlindungan yang tersedia. Dana darurat, perencanaan pengeluaran, serta pemeriksaan manfaat dan pengecualian polis dapat menjadi bagian dari persiapan menghadapi risiko. (Wisa Irena Br Sitepu)