Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan setidaknya terdapat tiga tantangan yang akan dihadapi perbankan ke depan.
"Pertama adalah risiko pelemahan dari perekonomian global. Kalau kita lihat kekhawatiran utama risikonya tentu saja saat ini The Fed masih punya pikiran untuk menaikkan di atas 5,75 persen dari target yang sekarang. Jadi kalau pelemahannya semakin dalam, tentu saja sektor-sektor yang kita targetkan untuk loan menjadi semakin terbatas," kata Andry dalam program acara Economic Talk dengan tema 'Perekonomian Indonesia Semester II 2023' di Metro TV.
Tantangan berikutnya yang akan dihadapi berupa volatilitas harga hingga ketidakpastian rantai pasok global.
"Tantangan yang kedua, tentu saja volatility kalau misalnya inflasi terganggu, karena inflasi menurut saya adalah big game changer untuk Indonesia. Tahun lalu bisa dibayangkan dengan suku bunga acuan yang sangat agresif di The Fed, kenaikan suku bunga acuan di domestik, inflasi yang meningkat, kenaikan harga BBM, dan pressure capital of loss. Yield capital marketing kita masih cukup bagus terutama di sisi obligasi. Obligasi bisa di bawah 7 persen yield-nya," katanya.
Terkait inflasi, dijelaskan lebih lanjut oleh Andry, ada potensi inflasi di Indonesia akan melandai.
"Inflasi memang akan melandai, bukan hanya di Indonesia. Kita sendiri melihat potensi inflasi itu ke arah 3 persen hingga 3,2 persen. Apalagi kalau kita lihat dari sisi di sessional effect. Pada kuartal empat tahun lalu itu kan sangat heavy karena dampak dari pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Tahun ini sudah tidak ada lagi," ujarnya.
Tantangan terakhir disebutkan Andry, akan tampak pada semester kedua yakni terkait dampak penyelenggaraan Pemilu 2024.
"Terakhir adalah tantangan di second half, bagaimana bisa mengelola dampak dari pemilu. Terutama dari sisi apakah pengusaha akan semakin besar dengan volatility yang ada, atau memang masih tetap punya confidence untuk ekspansi melihat recovery yang terjadi pada 2024," tuturnya.
Selain tantangan tersebut, Andry menyoroti ancaman resesi yang diperkirakan berlanjut hingga tahun depan. Perbankan disebutkan telah menyiapkan mitigasi risiko untuk menghadapi ancaman resesi.
"Saya rasa perbankan sudah jauh-jauh hari sejak era 1998, 2008, sudah sangat prudent memitigasi risiko. Jadi dua poin yang selalu dijaga adalah bagaimana pertumbuhan bisnis yang sustainable dan sehat, dengan mitigasi risiko yang sangat baik. Makanya semua bank saat ini memiliki skema, antisipasi dengan melakukan stress test yang sangat baik. Skenarionya semakin beragam. Bahkan saat ini, bersama dengan OJK sudah melakukan early stress test untuk memitigasi empat dari climate change, misalnya," ujar Andry.
Saat ini bank pun cukup berhati-hati dan selektif memilah sektor yang relatif berisiko dan sektor yang memiliki peluang.
"Dengan kesiapan yang seperti itu, saya rasa gejolak yang besar pun perbankan sudah siap menghadapinya dengan mitigasi risiko yang kuat. Tentu saja, saat ini bank akan lebih selektif dengan melihat sektor-sektor mana yang sektor yang relatif memiliki risiko, mana yang memang tetap memiliki peluang," ujarnya.
Selain menyiapkan mitigasi risiko untuk menghadapi ancaman resesi, bank juga memperluas fokus bisnis supaya tetap cuan. Fokus perbankan kini tak hanya pada pertumbuhan kredit, namun juga memperbanyak transaksi.
"Saya rasa perbankan saat ini bukan hanya fokus kepada pertumbuhan kredit, tapi juga bagaimana soal transaksi. Transaksi itu menjadi salah satu dorongan. Ketika perekonomian bertumpu tentu saja transaksi akan meningkat dan ini menjadi salah satu penopang profit perbankan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News