Chairman IISIA, Akbar Djohan mengatakan mengatakan Munas ke-5 ini mengangkat tema “Peluang Strategis Industri Baja Indonesia Dalam Membangun Kedaulatan Ekosistem Industri Baja Nasional”.
“Kita tidak ingin industri baja nasional hanya menjadi penonton di tengah gegap gempita pembangunan di negeri sendiri. Kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi karya bangsa lain. Kita bersama-sama ingin dari hulu paling dalam hingga hilir paling ujung semua adalah buah dari keringat kecerdasan anak bangsa,” tegas Akbar Djohan di Munas IISIA ke-5 di Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
Akbar menambahkan untuk mewujudkan kedaulatan industri baja nasional bukanlah hal yang mudah. Ada banyak tantangan yang perlu dihadapi.
“Saat ini kita menghadapi badai global, oversupply melanda pasar, fluktuasi bahan baku datang silih berganti. Dan tekanan produk impor terus mengetuk pintu rumah kita,” bebernya.
Lebih lanjut Akbar menyebut di tengah balik tantangan tersebut, industri baja nasional menyimpan potensi besar. “Proyek infrastruktur terus bergerak, hilirisasi kian masif dan geliat manufaktur adalah peluang emas yang menanti,” imbuhnya.
Namun, untuk menggapai peluang emas tersebut perlu adanya fondasi yang kuat. Termasuk juga menjalin kemitraan dengan pemerintah.
Akbar menegaskan melalui Munas ke-5 ini IISIA akan merumuskan strategi untuk mewujudkan kedaulatan industri baja nasional. “Munas ke-5 ini ruang untuk kita meramu menyatukan visi dan tentu memperkuat sinergi. Saya mengajak forum ini sebagai wadah menghasilkan rekomendasi yang konkret. Mari kita garap kemitraan dengan pemerintah agar iklim usaha yang sehat dapat tercipta,” jelasnya.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin menjelaskan bahwa ke tanpa keberpihakan pemerintah terhadap industri baja Indonesia bisa tergerus di tengah persaingan global.
“Kita tahu kita mempunyai pesaing yang kuat dari China, dari Vietnam. Tanpa keberpihakan dari pemerintah ya tentu industri ini akan dengan sendirinya tergerus. Selaku Kadin Indonesia, saya berharap pemerintah harus berpihak kepada industri baja nasional yang menjadi mother industries dari semua industri yang ada,” tegasnya.
Sementara itu Ketua Dewan Pengawas IISIA, Silmy Karim mengatakan bahwa Munas ke-5 ini merupakan momen untuk melakukan proyeksi arah pembangunan industri baja nasional. Penguatan sinergi untuk menghadapi tantangan yang kompleks juga perlu diwujudkan dalam forum ini dengan dialog yang berbasis data.
“Serta penguatan kemitraan strategis antar industri, pemerintah serta lembaga penelitian dan teknologi,” ucapnya.
Silmy menambahkan untuk penguatan industri baja nasional harus bertumpu pada beberapa pilar. Mulai dari penguatan struktur industri hulu dan hilir untuk mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah produk nasional.
“Peningkatan daya saing melalui inovasi teknologi dan transformasi digital industri,” ucapnya.
Ketiga pengembangan sumber daya manusia adaptif, kolaboratif. Lalu keempat percepatan transisi menuju industri besi dan baja berkelanjutan dalam menerapkan praktik produksi hijau dan efisien.
“Kelima yang paling penting harmonisasi kebijakan dan kepastian hukum yang konsisten, adil dan berpihak kepada industri baja nasional,” tegas Silmy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News