Di tengah proses tersebut, penggunaan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kerja terus
meningkat untuk membantu menyusun laporan, menganalisis data, hingga mempercepat pembuatan konten.
AI bawa efisiensi, tapi...
Tak bisa dipungkiri bahwa AI memang membawa efisiensi yang nyata. Survei penggunaan AI ditempat kerja menunjukkan bahwa 27 persen pekerja mampu menghemat lebih dari 9 jam kerja per minggu berkat pemanfaatan teknologi ini.
Angka tersebut menggambarkan potensi besar AI dalam membantu pekerja mengelola waktu dan beban kerja secara lebih efektif.
| Baca juga: Serangan Awal pada Agen AI Ungkap Kerentanan Keamanan Siber yang Mendesak |
Budaya shortcut thinking
Namun demikian, di balik kemudahan tersebut, muncul risiko baru yang jarang dibicarakan secara terbuka. Ketika AI semakin mudah diakses, ada kecenderungan untuk menggunakannyasebagai jalan pintas dengan mengandalkan kecepatan, tanpa benar-benar memikirkan arah.
Budaya “shortcut thinking” inilah yang jika dibiarkan, justru berisiko menurunkan kualitas
analisis dan pengambilan keputusan.
Untuk itu, Allianz Indonesia menghadirkan ruang diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens
(NgobrAZ) bertajuk “AI Yes, Shortcut No: Cara Cerdas Pakai AI di Dunia Kerja” dengan
menghadirkan Abi Mangku Nagari sebagai AI Implementation Consultant.
“Diskusi ini menjadi pengingat bahwa produktivitas tidak diukur dari seberapa cepat pekerjaan
selesai, melainkan dari seberapa tepat keputusan diambil dan seberapa kuat fondasi berpikir di
baliknya,” ujar Head of Corporate Communications Allianz Indonesia, Wahyuni Murtiani dalam keterangan tertulis, Kamis, 29 Januari 2026.
Senada dengan hal tersebut, Abi menilai bahwa tantangan utama dalam adopsi AI di dunia kerja saat ini bukan terletak pada teknologinya.
“Tantangan terbesar dari adopsi AI di dunia kerja bukan pada kecanggihan AI, tetapi pada
mindset penggunanya. Ketika AI diposisikan sebagai jalan pintas, kualitas berpikir dan rasa
tanggung jawab justru bisa menurun,” jelas Abi.
Dalam praktiknya, AI akan memberikan dampak paling optimal ketika diposisikan sebagai alat
bantu berpikir, bukan sebagai auto-pilot yang mengambil alih kendali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News