Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Foto: MI/Dhemas
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu). Foto: MI/Dhemas

Waskita Karya Optimistis Divestasi Tol Becakayu Berjalan Lancar

Ekonomi waskita karya tol becakayu
Husen Miftahudin • 06 September 2020 11:41
Jakarta: PT Waskita Karya (Persero) Tbk atau WSKT optimistis program divestasi (pelepasan kepemilikan saham) ruas yang dimiliki perusahaan akan berjalan lancar. Salah satunya pelepasan saham yang dilakukan anak perusahaan WSKT di bidang jalan, PT Waskita Toll Road (WTR) di PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM) sebagai badan usaha jalan tol yang memegang konsesi jalan tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu).
 
Waskita Toll Road melakukan divestasi sebesar 30 persen kepemilikan saham di KKDM senilai Rp550 miliar dengan menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) untuk pelepasan kepemilikan ruas jalan tol Becakayu. Finalisasi transaksi divestasi tersebut ditargetkan rampung pada September atau Oktober tahun ini.
 
Direktur Keuangan Waskita Karya Taufik Hendra Kusuma mengharapkan dengan berjalan lancarnya pelepasan saham tol Becakayu ini dapat mendukung kinerja perusahaan di tengah pandemi covid-19. Apabila seluruh program divestasi tol tahun ini berjalan lancar, maka perusahaan diperkirakan akan dapat mengurangi beban utang sekitar Rp20 triliun hingga Rp21 triliun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Transaksi divestasi ruas tol itu membutuhkan waktu, prosesnya bisa mencapai lebih dari enam bulan karena investor harus melakukan due diligence dan ada persyaratan governance yang harus dipenuhi. Namun kami optimistis program divestasi ini akan berhasil sehingga kinerja tahun depan akan lebih baik," ujar Taufik dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Minggu, 6 September 2020.
 
Berdasarkan laporan keuangan 30 Juni 2020 yang dipublikasikan, Waskita Karya mencatatkan perolehan pendapatan usaha sebesar Rp8,04 triliun. Meskipun mengalami penurunan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, pendapatan usaha emiten konstruksi ini merupakan yang tertinggi apabila dibandingkan dengan tiga emiten BUMN konstruksi lainnya.
 
Emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Desember 2012 itu mencatatkan Laba Sebelum Beban Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi (EBITDA) sebesar Rp1,2 triliun. "Dari sisi operasional, Waskita membuktikan tetap dapat mempertahankan profitabilitas di tengah pandemi," tegasnya.
 
Meskipun meraih pendapatan usaha tertinggi dan juga EBITDA positif, Waskita Karya juga mencatatkan rugi bersih sebesar Rp1,1 triliun. Taufik menjelaskan, kerugian tersebut lebih disebabkan besarnya beban bunga investasi jalan tol.
 
"Siklus bisnis jalan tol itu memang di awal masa operasi akan mencatatkan loss (rugi), karena Lalu Lintas Harian Rata-Ratanya (LHR) masih rendah dan bunga pinjaman mulai dibebankan. Selain upaya peningkatan realisasi LHR, strategi divestasi ruas tol yang sudah beroperasi kepada investor merupakan upaya yang sedang dilakukan agar beban keuangan menurun," papar Taufik.
 
Waskita Karya memegang kepemilikan atas 16 ruas jalan tol dengan total investasi sebesar Rp150 triliun. Saat ini beberapa ruas tol sedang dilakukan divestasi kepada investor, di antaranya Becakayu, Cibitung-Cilincing, serta ruas Trans Jawa Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif