Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Foto: Istimewa.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. Foto: Istimewa.

Petrokimia Gresik Kembangkan Teknologi Penangkap Karbon, Efisiensi Capai 97,79%

Arif Wicaksono • 17 Oktober 2026 09:24
Ringkasnya gini..
  • PT Petrokimia Gresik mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menangkap karbon dioksida dari proses industri dan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
  • Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan proyek percontohan yang dijalankan di Gresik, Jawa Timur, itu berpotensi menjadi tonggak pengembangan industri hijau di Indonesia.
Jakarta: PT Petrokimia Gresik mengembangkan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menangkap karbon dioksida dari proses industri dan mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi. Hasil uji coba teknologi tersebut menunjukkan tingkat efisiensi penangkapan karbon mencapai 97,79 persen.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan proyek percontohan yang dijalankan di Gresik, Jawa Timur, itu berpotensi menjadi tonggak pengembangan industri hijau di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat meninjau proyek CCU pada Jumat, 16 Oktober 2026.
 
Proyek ini merupakan kolaborasi Kementerian Perindustrian, PT Pupuk Indonesia (Persero), Petrokimia Gresik, dan UWin Resources Regeneration Inc. Pengembangan CCU ditujukan untuk mengurangi emisi industri sekaligus membuka peluang pemanfaatan karbon sebagai bahan baku produk komersial.

Sarmuji menilai keberhasilan uji coba tersebut dapat menjadi dasar untuk memperluas penggunaan teknologi CCU di sektor industri lainnya. Namun, penerapan secara komersial membutuhkan kajian lanjutan agar teknologi dapat beroperasi secara efektif pada skala industri.

“Ini akan menjadi sejarah bagi Petrokimia Gresik sebagai industri yang menjadi pionir bagi penerapan Carbon Capture and Utilization. Ini akan kita sebarluaskan karena proyek percontohan ini menghasilkan manfaat yang besar,” ujar Sarmuji.

Teknologi CCU bekerja dengan menangkap karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari kegiatan industri, kemudian memanfaatkannya kembali untuk menghasilkan produk baru. Salah satu produk yang dapat dihasilkan melalui teknologi ini adalah soda ash atau natrium karbonat.

Berdasarkan evaluasi proyek percontohan, efisiensi penangkapan CO₂ tercatat berada pada rentang 91,48 hingga 97,79 persen. Adapun pengujian kedua yang dilakukan pada Mei 2026 menghasilkan soda ash dengan kandungan natrium karbonat (Na₂CO₃) sebesar 99,12 hingga 99,73 persen.

Hasil evaluasi teknis menyatakan produk tersebut memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 06-0598-1989. Capaian ini menjadi salah satu indikator awal bahwa karbon hasil proses industri berpotensi diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.

Menurut Sarmuji, pemanfaatan CCU dapat memberikan dua manfaat sekaligus bagi industri, yakni menekan emisi karbon dan menghasilkan produk yang berpotensi mendatangkan pendapatan. Dengan demikian, upaya dekarbonisasi tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru.

Meski demikian, pemerintah masih akan mengevaluasi hasil uji coba sebelum teknologi tersebut dikembangkan ke tahap komersial. Penyusunan peta jalan atau roadmap diperlukan untuk mengarahkan proses pengembangan dari skala percontohan menuju penerapan industri.

“Tentu harus kita evaluasi terus-menerus supaya ini bisa berlaku sebagai sebuah skala industri, bukan hanya pilot project. Kita akan punya roadmap ke sana,” jelasnya.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan hasil pengujian CCU di Petrokimia Gresik telah membuktikan bahwa teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produk yang berguna. Menurutnya, hasil ini menjadi landasan untuk mengkaji kemungkinan penerapan teknologi secara komersial.

“Hari ini kita menyaksikan proof of concept, artinya teknologi baru yang sudah terbukti bisa dimanfaatkan menghasilkan hal yang bermanfaat. Tadi arahan dari Bapak Menteri untuk meningkatkan menjadi komersial. Hitung-hitungan komersialnya nanti kami akan hitung ketika ini meningkat menjadi komersial,” ujar Rahmad.

Ia menambahkan, Pupuk Indonesia mendukung pengembangan teknologi rendah emisi sebagai bagian dari transformasi industri pupuk menuju proses produksi yang lebih berkelanjutan. Keputusan untuk meningkatkan skala penerapan akan mempertimbangkan evaluasi teknis dan perhitungan kelayakan ekonomi.

“Kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya dekarbonisasi sebagaimana diarahkan dan diberikan instruksi oleh Kementerian Perindustrian,” tambahnya.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan proyek CCU merupakan bagian dari upaya perusahaan mengembangkan operasional yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan terus mendorong efisiensi, inovasi teknologi, dan pengelolaan lingkungan untuk mendukung keberlanjutan kegiatan industri.

Menurut Daconi, keterlibatan Petrokimia Gresik dalam proyek tersebut diwujudkan melalui penyediaan lokasi pengujian dan fasilitas pendukung. Kolaborasi dengan pemerintah dan mitra teknologi diharapkan dapat memperkuat pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri nasional.

Petrokimia Gresik juga menjalankan peta jalan dekarbonisasi untuk mendukung target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 dan Net Zero Emission (NZE) 2060. Hingga 2025, perusahaan mencatat penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) hampir 400 ribu ton setara karbon dioksida (CO₂e) melalui berbagai program yang telah dijalankan.

Program tersebut meliputi peningkatan efisiensi energi melalui teknologi Amonia II dan Purge Gas Utilization, peralihan bahan bakar, pemanfaatan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), penggunaan kembali CO₂ dalam proses industri, serta elektrifikasi kendaraan dan peralatan operasional.

Daconi menjelaskan, kerja sama pengembangan CCU dimulai melalui penandatanganan nota kesepahaman pada Januari 2025 dan dilanjutkan dengan kick-off proyek pada Juli 2025. Dalam pelaksanaannya, Pupuk Indonesia dan Petrokimia Gresik menyediakan lokasi, utilitas, fasilitas pengujian, serta dukungan analisis laboratorium.

Sementara itu, UWin Resources Regeneration Inc. bertanggung jawab menyediakan teknologi dan peralatan yang digunakan dalam proyek. Kementerian Perindustrian menjalankan fungsi koordinasi pemantauan dan evaluasi untuk menilai perkembangan serta hasil pengujian.

Selain pemanfaatan karbon, kerja sama tersebut direncanakan berlanjut pada pengujian teknologi untuk mengurangi polutan udara berupa partikulat halus PM2.5 di unit pembangkit berbahan bakar batu bara milik Petrokimia Gresik. Tahapan pengujian ini direncanakan berlangsung hingga Juli 2028.

Daconi menegaskan perusahaan akan terus mendukung pengujian inovasi teknologi di lingkungan industri melalui penyediaan fasilitas sesuai kapasitas dan perannya. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu pengembangan teknologi pengelolaan emisi sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan