Baca juga: 3,88 Juta Green Jobs Menanti di Indonesia, Skill Pekerja Harus Ikut Berubah |
Petrokimia Gresik membawa pengalaman Indonesia dalam mendorong transformasi industri, pertanian berkelanjutan, hingga pengembangan talenta hijau.
Salah satu inovasi yang ikut menjadi bagian dari kiprah tersebut adalah GladiAgro: Next-Gen Soil Revival, solusi untuk memulihkan kesehatan tanah yang sebelumnya meraih penghargaan tertinggi dalam SDGs Innovation Accelerator for Young Professionals 2026.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menghadiri 2026 UN Private Sector Forum di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), New York, pada Minggu (20/9) waktu setempat atau Senin (21/9) waktu Indonesia.
Forum yang diselenggarakan UN Global Compact tersebut mempertemukan sekitar 150 pemimpin senior dari dunia usaha, pemerintah, dan PBB. Mereka membahas bagaimana transisi menuju energi yang lebih bersih, adil, dan aman bisa dipercepat.
Forum tersebut dipimpin Sanda Ojiambo, Assistant Secretary-General PBB sekaligus CEO dan Executive Director UN Global Compact, serta turut dihadiri Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Pembahasannya mencakup investasi, infrastruktur, kebijakan, hingga kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha.
Dalam forum khusus undangan itu, Daconi menjadi satu-satunya direktur utama dari Indonesia yang berkesempatan hadir.
Tak berhenti di forum PBB, Daconi kembali menjadi pembicara pada Global Talent for Sustainable Development yang digelar di KJRI New York pada Senin (21/9) waktu setempat atau Selasa (22/9) waktu Indonesia.
Forum tersebut mempertemukan diaspora Indonesia, mahasiswa, pemimpin bisnis, praktisi keberlanjutan, hingga inovator. Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah kesiapan talenta Indonesia menghadapi pertumbuhan green jobs dan perubahan menuju industri hijau.
“Transformasi menuju ekonomi hijau pada dasarnya juga merupakan transformasi tenaga kerja. Investasi pada teknologi harus berjalan bersama dengan investasi pada manusia,” ujar Daconi.
Menurut dia, teknologi hijau tidak akan memberikan dampak maksimal jika tidak dibarengi sumber daya manusia yang mampu merancang, mengoperasikan, sekaligus mengembangkannya.
Karena itu, Daconi mengajak talenta Indonesia yang sedang belajar maupun bekerja di luar negeri untuk ikut mengambil bagian dalam transformasi tersebut. Pengetahuan, pengalaman, dan jejaring global yang dimiliki diaspora dinilai dapat menjadi modal untuk ikut mendorong kemajuan Indonesia.
Dari Pabrik Sampai ke Lahan Petani
Daconi menyebut Petrokimia Gresik memiliki posisi yang cukup unik dalam agenda transformasi hijau. Pasalnya, perusahaan berada di dua sisi sekaligus, yakni industri dan pertanian.Di sisi hulu, Petrokimia Gresik merupakan industri pupuk dan kimia yang terus mendorong efisiensi serta menurunkan intensitas karbon. Sementara di sisi hilir, produk dan inovasinya digunakan untuk mendukung produktivitas petani dan keberlanjutan pertanian.
Salah satu inovasinya adalah GladiAgro yang dikembangkan untuk menjawab persoalan menurunnya kesehatan tanah.
Berdasarkan pengujian Petrokimia Gresik terhadap 40.282 sampel tanah di 27 provinsi sejak 2016, sebanyak 91,9 persen sampel menunjukkan kandungan karbon organik yang rendah.
GladiAgro menggunakan Petro Gladiator, dekomposer berbasis mikroba unggul yang membantu mempercepat proses penguraian limbah pertanian dan bahan organik menjadi nutrisi organik.
Nutrisi tersebut kemudian dikembalikan ke lahan. Tujuannya bukan sekadar menambah input pertanian, tetapi juga meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki struktur tanah, dan mendukung pemulihan kesehatan tanah.
“Transformasi hijau kami tidak berhenti di gerbang pabrik, tetapi berlanjut sampai ke lahan pertanian,” kata Daconi.
Menurutnya, industri perlu membuat proses produksinya semakin efisien dan rendah karbon. Pada saat yang sama, sektor pertanian juga perlu mendapat dukungan agar petani dapat menjaga kesehatan tanah, menggunakan input secara lebih tepat, dan mempertahankan produktivitas dalam jangka panjang.
Green Jobs Butuh Green Talent
Dalam forum di KJRI New York, Daconi membawa perspektif “Green Jobs: From Green Transformation to Green Talent”. Garis besarnya sederhana yakni ketika teknologi industri berubah, kemampuan pekerjanya juga harus ikut berkembang.Engineer dan operator yang selama ini banyak berfokus pada keandalan serta kapasitas produksi, misalnya, ke depan juga perlu memahami efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, hingga teknologi rendah karbon.
Kebutuhan talenta juga makin beragam. Bukan hanya dari bidang teknik dan lingkungan, tetapi juga pertanian, digital, data, keuangan, dan bisnis.
“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Tetapi teknologi yang mereka gunakan, kompetensi yang mereka butuhkan, dan ukuran keberhasilan pekerjaannya akan berubah,” jelas Daconi.
Karena itu, pengembangan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, dan kolaborasi lintas disiplin.
Pengembangan kompetensi tersebut berjalan beriringan dengan transformasi operasional Petrokimia Gresik. Perusahaan memiliki roadmap dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Untuk target jangka pendek pada 2030, Petrokimia Gresik menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.
Upaya tersebut mencakup efisiensi energi dan utilitas, penggunaan sumber energi yang lebih bersih, pemanfaatan energi terbarukan dan CO₂, hingga pengembangan teknologi rendah karbon.
Salah satu yang tengah dikaji adalah pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi hybrid green ammonia berkapasitas 250 MTPD bersama Pupuk Indonesia.
Menurut Daconi, transformasi industri membuat perusahaan tidak cukup hanya menjadi pengguna tenaga kerja. Industri juga perlu ikut membentuk talenta yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan ke depan.
Caranya melalui pengembangan kompetensi dan kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, serta berbagai pemangku kepentingan.
“Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita,” pungkas Daconi.
Menurutnya, kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta talenta Indonesia di dalam dan luar negeri menjadi bagian penting agar transformasi hijau tidak hanya berdampak pada penurunan emisi.
Lebih jauh, transformasi tersebut diharapkan dapat menciptakan nilai ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, dan membuka peluang baru bagi generasi mendatang.