Produk UMKM. Foto: Istimewa.
Produk UMKM. Foto: Istimewa.

Peluang Ekspor Produk UMKM Indonesia Tembus Pasar Internasional

Arif Wicaksono • 30 Agustus 2026 21:15

Tangerang: Produk UMKM Indonesia punya peluang semakin besar untuk menembus pasar internasional. Salah satu jalannya adalah mempertemukan langsung pelaku usaha dengan buyer, investor, dan calon mitra dagang dari berbagai negara.
 
Peluang tersebut terlihat dalam Jakarta Halal Expo and Conference (JHEC) 2026 yang mempertemukan +30 pelaku usaha halal Indonesia dengan +14 buyer dan investor dari +15 negara melalui skema business matching business to business (B2B).

Baca juga: Peran BUMN Bantu Pelaku UMKM Korban Gempa NTT untuk Bangkit 


Penyelenggaraan ketiga JHEC berlangsung pada 28–30 Agustus 2026 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, mengusung tema "Indonesia’s Premier Platform for Global Halal Trade, Partnership, and Innovation".
 
JHEC digelar oleh Lima Events dengan Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia (KPMI) sebagai host, berkolaborasi dengan Muslim LifeFest. Namun, berbeda dari pameran produk pada umumnya, JHEC lebih diarahkan sebagai ruang pertemuan bisnis yang mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan calon mitra dari luar negeri.

Bendahara Umum KPMI Teuku Fadhil Aruna mengatakan skema tersebut menjadi pembeda antara JHEC dengan Muslim LifeFest. Jika Muslim LifeFest menyasar konsumen atau B2C, JHEC secara khusus mempertemukan pelaku usaha dengan pelaku bisnis lainnya.
 
"Kalau Muslim LifeFest skemanya B2C atau business to customer. Tapi kalau di JHEC, Jakarta Halal Expo and Conference, adalah program B2B, di mana di sini mempertemukan antara pengusaha-pengusaha dari luar negeri dengan pengusaha yang ada di Indonesia," ujar Fadhil.
 
Bagi UMKM, akses langsung kepada buyer luar negeri menjadi peluang penting untuk memperluas pasar. Selama ini, kualitas produk bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi pelaku usaha ketika ingin melakukan ekspor. Jaringan bisnis, distributor, hingga akses terhadap calon pembeli juga menjadi faktor penting.
 
Karena itu, business matching dilakukan dengan mempertemukan pelaku usaha berdasarkan kebutuhan masing-masing pihak. Buyer dari luar negeri dapat mencari produk atau mitra distribusi yang sesuai, sementara pengusaha Indonesia dapat menawarkan produknya untuk pasar ekspor.
 
"Kita melakukan business matching di sini, menyesuaikan dengan produk-produk yang ada, produk yang mereka butuhkan. Indonesia butuh apa, mereka butuh apa — KPMI melakukan wadah itu dalam bentuk business matching di Jakarta Halal Expo and Conference," terang Fadhil.
 
Menurut Fadhil, banyak UMKM Indonesia sebenarnya sudah memiliki produk yang kompetitif, tetapi masih menghadapi keterbatasan jaringan untuk berkembang di luar pasar domestik.
 
"Banyak UMKM kita produknya sudah bagus, tapi jaringannya berhenti di pasar lokal. Lewat business matching ini, mereka duduk langsung dengan buyer dan distributor luar negeri. Itu yang selama ini menjadi jarak, dan itu yang ingin KPMI jembatani," kata Fadhil.


Tujuh sektor industri 

Peluang ekspor tersebut juga semakin terbuka karena produk yang ditawarkan tidak hanya berasal dari sektor makanan dan minuman. JHEC 2026 menaungi tujuh sektor industri, yakni food and beverages, health and pharmaceuticals, beauty and personal care, fashion and garments, halal tourism, business solutions, serta sharia-compliant finance.
 
Keragaman sektor tersebut menunjukkan bahwa pasar halal global memiliki ruang yang luas bagi pelaku UMKM Indonesia. Produk fashion, kecantikan, kesehatan, makanan, hingga jasa dapat memiliki peluang pasar apabila mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan standar yang berlaku di negara tujuan.
 
Rangkaian program JHEC juga mencakup exhibition, business matching, product demo, Halalpreneur Pitchfest, dan conferences. Bagi pelaku usaha, rangkaian tersebut dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk, mendapatkan calon mitra, sekaligus membangun jaringan bisnis yang lebih luas.
 
Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal sekaligus Plt. Kepala Sekretariat KNEKS Arief Wibisono, menilai forum seperti JHEC akan memberikan manfaat lebih besar apabila koneksi bisnis yang terbentuk tidak berhenti ketika pameran selesai.
 
"Forum ini mempertemukan pelaku usaha, konsumen, mitra bisnis, pendidik, pembiayaan, investor, serta berbagai inovasi dan jejaring yang dapat membuka peluang pertumbuhan usaha," ucap Arief.
 
Menurut dia, koneksi yang terbentuk selama JHEC perlu dilanjutkan menjadi kerja sama nyata. Kemitraan investasi, inovasi, dan akses pasar baru menjadi bagian penting agar semakin banyak usaha halal Indonesia mampu meningkatkan daya saingnya di tingkat global.
 
"Akhirnya, kita ingin semakin banyak usaha halal sehingga Indonesia naik kelas, produk halal semakin berdaya saing di pasar global, dan manfaat pertumbuhan ekonomi syariah semakin luas dirasakan oleh masyarakat," ujarnya.
 
Peluang ekspor produk Indonesia juga mendapat perhatian dari Malaysia. Duta Besar Malaysia untuk Indonesia terpilih (Ambassador-Designate) H.E. Dato’ Muzafar Shah bin Mustafa menyebut pengembangan industri halal dapat menjadi salah satu bidang yang memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
 
"Kita juga akan berkolaborasi dalam hal-hal yang berkaitan untuk terus mempromosikan industri halal. Sebagai duta Malaysia, kita juga melihat peluang untuk berkolaborasi dalam hal ini kerana ia juga memberi faedah untuk kedua-dua negara," ujarnya.
 
Setelah meninjau langsung produk yang dipamerkan, Dato’ Muzafar menilai produk Indonesia memiliki kualitas dan potensi untuk menembus pasar internasional. Tantangannya adalah bagaimana produk-produk tersebut dapat semakin dikenal oleh konsumen di luar negeri.
 
"Saya rasa event-event sebegini amat bagus dan sesuai untuk kita mempromosikan produk-produk halal supaya dia dapat menembusi pasaran antarabangsa," katanya.
 
Kerja sama Indonesia dan Malaysia di sektor halal pun berpeluang dikembangkan lebih jauh. Kedua negara tengah membahas kolaborasi antarlembaga halal yang diharapkan dapat berlanjut dalam bentuk kesepakatan bersama.
 
Bagi UMKM Indonesia, peluang masuk pasar global pada akhirnya bukan sekadar soal menjual produk ke luar negeri. Akses terhadap buyer, distributor, investor, pembiayaan, dan jaringan bisnis menjadi bagian penting dari proses naik kelas. Jika koneksi tersebut dapat berlanjut menjadi kontrak dagang dan kerja sama jangka panjang, produk UMKM Indonesia punya peluang lebih besar untuk tidak hanya dikenal di pasar lokal, tetapi juga bersaing di pasar internasional.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan