Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto : Medcom.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto : Medcom.

Industri Farmasi RI Diupayakan Kuat untuk Hadapi Covid-19

Ekonomi Virus Korona industri farmasi
Ilham wibowo • 11 Maret 2020 13:59
Cikarang: Merebaknya virus korona covid-19 di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia perlu jadi momentum untuk meningkatkan industri farmasi. Sektor farmasi di Tanah Air saat ini sangat terdampak lantaran bahan baku obat yang sebagian besar berasal dari Tiongkok.
 
Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengemukakan pemerintah harus mendorong percepatan substitusi produk impor farmasi dengan bahan baku lokal untuk menekan angka impor dan meningkatkan devisa negara. Apalagi, di tengah kekhawatiran covid-19 stabilitas pertumbuhan ekonomi dalam negeri perlu dipastikan bisa terjaga.
 
“Industri farmasi merupakan industri strategis yang berdampak pada kebutuhan masyarakat banyak. Apalagi saat ini terjadi wabah korona," kata Agus saat meninjau pusat riset OMAI di Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences, Cikarang, Jawa Barat, Rabu, 11 Maret 2020

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Percepatan industri substitusi produk impor tersebut sesuai dengan Inpres 6/2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan sebagai alternatif mengantisipasi ketergantungan impor yang tinggi pada bahan baku farmasi. Saat ini, pemerintah memprioritaskan pengembangan obat atau produk biologi berbahan baku makhluk hidup melalui Obat Modern Asli Indonesia (OMAI).
 
Adapun industri farmasi Nasional mencatat, sekitar 95 persen kebutuhan bahan baku farmasi di Indonesia berasal dari impor. Nilai impor bahan baku obat setiap tahun mencapai USD2,5 miliar hingga USD2,7 miliar. Bahan baku terbesar berasal dari Tiongkok yang mencapai 60 persen, diikuti India dan negara lainnya.
 
"Upaya kesehatan masyarakat meningkat tajam, sehingga kebutuhan obat-obatan juga naik. Terlebih lagi industri farmasi menjadi salah satu industri yang terdampak dengan adanya wabah ini, mengingat 60 persen kebutuhan bahan baku berasal dari Tiongkok,” ucap Agus.
 
Agus menegaskan bahwa industri farmasi merupakan industri nonmigas yang menjadi pendorong target pertumbuhan industri nasional. Langkah nyata sudah dilakukan Dexa Group, yang siap membuat produk farmasi dengan OMAI pada tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) 100 persen.
 
"Ini bisa dimaksimalkan dengan digunakannya OMAI di JKN, selain kita mendapatkan substitusi produk impor farmasi, kami juga akan mendorong ekspornya. Hal ini agar terjadi multiplier efek yang semakin mendorong pertumbuhan ekonomi,” paparnya.
 
Terhadap substitusi bahan baku impor farmasi, Dexa Group sebagai perusahaan Nasional telah mengupayakan kemandirian bahan baku farmasi melalui OMAI sejak 2005. Teknologi pada penerapan OMAI bisa membuat obat-obatan dengan bahan baku sepenuhnya berasal dari sumber alam Indonesia.
 
Pimpinan Dexa Group Ferry Soetikno mengatakan bahwa sedianya ketergantungan industri farmasi Nasional terhadap bahan baku impor dapat ditekan. Hal tersebut perlu dukungan Pemerintah agar segera merealisasikan aturan mengenai tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN.
 
Selain itu, lanjut Ferry, dorongan pemerintah terhadap penggunaan produk hilirisasi hasil riset dalam negeri seperti OMAI ke dalam fasilitas kesehatan Nasional juga perlu dipercepat untuk memberikan kepastian pasar bagi industri.
 
“Industri perlu kepastian pasar untuk meningkatkan produksi dan mengembangkan produk obat lainnya yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat,” papar Ferry.
 
Executive Director Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS) Dr. Raymond Tjandrawinata memaparkan bahwa pihaknya melakukan kegiatan riset di tingkat hulu dengan mengembangkan sediaan farmasi dan memproduksi Active Pharmaceutical Ingredients (API) yang berasal dari makhluk hidup. Sementara di tingkat hilir, inovasi pengembangan dari DLBS ini telah menghasilkan empat produk Fitofarmaka di Indonesia dan sejumlah produk obat herbal terstandar.
 
“Industri farmasi harus mendapat dukungan untuk pengembangan bahan baku dalam negeri sebagai produk substitusi impor. Ini karena obat yang telah kami temukan, teliti, dan kami uji memiliki efikasi yang setara dengan obat-obatan berbahan baku kimia. Selain itu multiplier ekonomi tidak akan berjalan cepat, apalagi kami memberdayakan para petani di berbagai daerah,” papar Raymond.
 
Raymond mencontohkan salah satu produk OMAI Dexa Group yakni Inlacin yang bisa dimanfaatkan sebagai obat diabetes. Fitofarmaka ini berbahan baku bungur dan kayu manis yang diperoleh dari petani di daerah Gunung Kerinci di Jambi.
 
“Produk ini telah teruji klinis dan memiliki efikasi yang sama dengan obat diabetes berbahan baku kimia seperti Metformin. Produk ini juga telah diekspor ke Kamboja dan Filipina,” katanya.
 
Lebih lanjut menurut Raymond, selain Inlacin, produk Fitofarmaka lainnya yakni Redacid berbahan baku kayu manis yang bermanfaat untuk mengatasi gangguan lambung, Disolf berbahan baku cacing tanah yang bermanfaat untuk memperlancar peredaran darah, Stimuno yang merupakan produk imunomodulator atau peningkat imun berbahan baku meniran.
 
(SAW)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif