Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: dok MI/PANCA SYURKANI
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto. FOTO: dok MI/PANCA SYURKANI

SKK Migas: Industri Migas Masih Penting di Tengah Transisi Energi

Antara • 14 September 2022 08:45
Malaysia: Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan industri hulu migas masih memainkan peran strategis meski dunia sedang melakukan transisi energi. Pada konteks ini, SKK Migas mendukung penuh komitmen pemerintah terhadap energi terbarukan.
 
"Namun kami juga sangat yakin bahwa sektor migas, khususnya gas masih sangat relevan dalam memainkan peran yang lebih strategis dalam transisi energi," kata Dwi, pada ajang Oil and Gas Asia (OGA), di Kuala Lumpur, Malaysia, dilansir dari Antara, Rabu, 14 September 2022.
 
Ajang OGA merupakan salah satu eksibisi migas terbesar di Asia yang menjadi wadah bertukar informasi teknologi dan tren terkini industri migas Asia, yang berlangsung pada 13-15 September 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dwi mengatakan migas masih dibutuhkan untuk kepastian keamanan energi, meski energi terbarukan akan memainkan peran penting pada masa depan. Oleh karena itu, lanjutnya, isu transisi energi perlu ditangani secara hati-hati dengan mempertimbangkan kesinambungan, keamanan, dan ketersediaan energi.
 
"Tantangannya kini adalah bagaimana meningkatkan produksi, sekaligus mengurangi emisi karbon pada saat yang bersamaan," kata Dwi.
Baca: Menkeu: Pemda yang Bisa Tekan Inflasi Bakal Dapat Insentif Rp10 Miliar

Transisi energi telah menjadi salah satu isu global yang memengaruhi industri migas dunia. Dalam Protokol Kyoto, Kesepakatan Paris, atau kesepakatan global lainnya banyak negara, termasuk Indonesia, berkomitmen mengurangi emisi karbon. Beberapa perusahaan migas ternama sudah memasukkan pengurangan emisi karbon ke dalam strategi portofolio mereka.
 
Indonesia, lanjutnya, tidak hanya sedang mengejar target produksi minyak sebesar satu juta barel dan gas sebesar 12 miliar kaki kubik per hari pada 2030 nanti, tetapi juga meningkatkan dampak berganda bagi perekonomian serta mendorong kesinambungan lingkungan.
 
Dwi optimistis gugusan kepulauan Indonesia masih menyimpan cadangan potensial karena dari 128 basin, produksi migas RI baru bersumber dari 20 basin. Artinya, masih ada 68 persen yang belum dieksplorasi. Pengeboran eksplorasi baru-baru ini di Laut Andaman menunjukkan hasil positif dengan adanya potensi cadangan gas.
 
"Kami mengundang lebih banyak kegiatan eksplorasi di kawasan ini. Kami ingin melakukan pengeboran 700 struktur, di mana kami berharap menemukan potensi besar. Kami juga menjajaki kegiatan eksplorasi besar-besaran untuk menemukan potensi cadangan migas non-konvensional,” jelas Dwi.
 
Pada forum OGA 2022 tersebut, Dwi menyampaikan Indonesia ingin berbagi semangat kerja sama di kawasan Asia Tenggara. Tahun ini Indonesia menjadi pemimpin G20 dan berharap bisa meraih berbagai kemungkinan kolaborasi dalam mempromosikan transisi energi.
 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif