Fenomena menurunkan gaya hidup atau downgrade lifestyle belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Telah terjadi perubahan cara sebagian orang melihat konsumsi.
Memiliki barang atau layanan yang lebih mahal tidak selalu dianggap sebagai tujuan utama. Fungsi, efisiensi, dan kemampuan menyisihkan uang mulai menjadi pertimbangan.
Lantas, apa sebenarnya downgrade lifestyle dan apakah keputusan tersebut sama dengan downshifting?
Apa Itu Downshifting?
Dikutip dari Investopedia, pertukaran antara uang atau tingkat kekayaan dan kualitas hidup yang berkaitan dengan kesejahteraan dikenal dengan istilah downshifting.Sederhananya, downshifting adalah keputusan untuk menurunkan standar hidup atau mengubah kebiasaan demi menjalani kehidupan yang dianggap lebih sederhana dan lebih baik.
Artinya, seseorang tidak selalu mengejar peningkatan pendapatan atau konsumsi. Ada kondisi ketika seseorang justru memilih mengurangi pengeluaran, tanggung jawab, bahkan aktivitas pekerjaan untuk mendapatkan manfaat lain dalam hidup.
Karena itu, downshifting bukan sekadar soal membeli barang yang lebih murah.
Downgrade Gaya Hidup Bukan Sekadar Hemat
Downshifting lebih menekankan pada keputusan sadar untuk menyesuaikan gaya hidup dengan prioritas hidup.Misalnya, seseorang memilih tinggal di rumah yang lebih kecil karena ingin mengurangi biaya bulanan. Ada pula yang mengurangi jumlah barang yang dimiliki agar pengeluaran sekaligus tanggung jawabnya menjadi lebih ringan.
Tujuannya bukan sekadar memiliki lebih sedikit barang. Dengan pengeluaran yang lebih rendah, seseorang bisa mendapatkan waktu luang lebih banyak, beban pekerjaan yang lebih ringan, hingga tingkat stres yang lebih rendah.
3 Bentuk Downshifting yang Umum Dilakukan
Menurut Investopedia, terdapat setidaknya tiga bentuk downshifting yang umum dilakukan.1. Mengurangi Konsumsi
Bentuk pertama adalah mengurangi pembelian barang yang tidak diperlukan atau bahkan menghilangkan barang tertentu dari daftar kebutuhan.Perubahan ini juga bisa terlihat dari pergeseran pola konsumsi, misalnya dari membeli banyak barang menjadi lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas.
2. Mengurangi Aktivitas yang Membebani
Downshifting juga bisa dilakukan dengan mengurangi aktivitas yang menyita waktu dan energi. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk berbagai aktivitas dapat dialihkan untuk keluarga, teman, hobi, olahraga, atau kegiatan lain yang dianggap lebih memberikan kepuasan.Jadi, yang dikurangi tidak selalu uang. Waktu dan energi juga bisa menjadi bagian dari keputusan tersebut.
3. Career Downshifting
Bentuk lainnya adalah career downshifting. Dalam kondisi ini, seseorang memilih meninggalkan pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi tetapi tekanan yang besar.Sebagai gantinya, mereka mengambil pekerjaan dengan tanggung jawab atau penghasilan lebih rendah, tetapi menawarkan fleksibilitas dan kepuasan yang lebih besar.
Tujuan akhirnya adalah mengubah pola hidup dari bekerja untuk memiliki lebih banyak menjadi bekerja untuk menjalani hidup.
Ada berbagai alasan seseorang memilih downshifting. Sebagian ingin mengurangi stres dan mendapatkan keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Ada pula yang ingin memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, teman, atau untuk menjalankan hobi.
Dari sisi keuangan, mengurangi konsumsi juga dapat membantu menekan pengeluaran. Seseorang bisa memilih tidak lagi membeli barang-barang materialistis yang dianggap tidak memberikan manfaat sepadan.
Dalam konteks yang lebih luas, pilihan hidup sederhana juga berkaitan dengan lingkungan. Semakin sedikit konsumsi, semakin sedikit pula sumber daya yang digunakan sehingga jejak ekologis dapat ditekan.
Karena itu, keputusan untuk “turun kelas” dalam gaya hidup tidak selalu berarti kondisi ekonomi seseorang sedang memburuk.