Indeks ini disusun berdasarkan analisis laporan Economist Intelligence Unit (EIU) dari berbagai negara, sehingga mencerminkan persepsi risiko ekonomi global secara luas, tidak hanya dari sisi pasar keuangan.
Tekanan inflasi mulai terasa di Indonesia
Dampak ketidakpastian global juga dirasakan di dalam negeri. Per Maret 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar sekitar 3,48 persen.Tekanan inflasi terutama berasal dari komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) yang tumbuh sekitar 6,08 persen YoY, serta harga bergejolak (volatile food) sebesar 4,24 persen YoY.
Meski masih berada dalam target pemerintah, kondisi ini mulai menekan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
| Baca juga: Kinerja Ritel Menguat Berkat Faktor Musiman Ramadan–Idul Fitri, Daya Beli Rawan Tertekan Inflasi |
Masyarakat mulai menahan konsumsi
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat cenderung mengambil langkah lebih berhati-hati dengan meningkatkan tabungan.Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026 menunjukkan porsi pendapatan yang disimpan (tabungan) meningkat menjadi 17,7 persen, dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 16,5 persen.
Kenaikan ini mengindikasikan adanya kecenderungan precautionary saving/”bermain aman”, di mana rumah tangga mulai menahan konsumsi dan memperkuat cadangan keuangan di tengah ketidakpastian.
Diversifikasi jadi kunci di tengah tekanan inflasi
Namun, menyimpan aset dalam bentuk kas bukan tanpa risiko. Head of Investment and Insurance DANA Ivan Kusuma menilai, menumpuk dana dalam bentuk tunai dalam jangka panjang berisiko tergerus inflasi, sehingga nilai riilnya dapat menurun."Oleh karena itu, memegang kas sebaiknya dilakukan secukupnya untuk kebutuhan likuiditas dan dana darurat, sementara sebagian lainnya dialokasikan ke aset atau instrumen yang memiliki potensi menjaga nilai terhadap inflasi," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2026.
Selain emas yang relatif tahan terhadap inflasi, instrumen lain yang cenderung lebih stabil adalah Surat Berharga Negara (SBN).
Instrumen ini umumnya menawarkan imbal hasil yang lebih terprediksi melalui pembayaran kupon, meskipun nilainya tetap dapat berfluktuasi, mengikuti kondisi pasar, terutama perubahan suku bunga. Selain itu, SBN dijamin oleh pemerintah sehingga memiliki tingkat keamanan yang tinggi.
“Untuk investor pemula, fokus pada instrumen yang relatif stabil dan membangun portofolio secara bertahap jauh lebih penting dibandingkan mengejar imbal hasil tinggi. Penting juga untuk menjaga diversifikasi aset dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing,” kata Ivan.
“Yang sering jadi miskonsepsi, investasi obligasi seperti SBN dianggap membutuhkan modal besar. Padahal, saat ini sudah banyak produk yang bisa dimulai dari Rp1 juta. Ini membuka peluang bagi lebih banyak orang, terutama anak muda, untuk mulai membangun portofolio sejak dini,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News