Ilustrasi kripto. Foto : AFP.
Ilustrasi kripto. Foto : AFP.

Wamendag: Indonesia Terbuka Investasi, Tapi Selektif soal Kripto

Husen Miftahudin • 06 Juli 2021 17:03
Jakarta: Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menyatakan Indonesia terbuka, namun tetap selektif terhadap kegiatan usaha di sektor kripto. Hal ini dikatakannya saat beraudiensi secara virtual dengan para pengusaha Tiongkok yang berminat terhadap kegiatan kripto di Indonesia.
 
Jerry menjelaskan terbuka yang dimaksud adalah bahwa Indonesia membuka kesempatan bagi investor manapun untuk berinvestasi di Indonesia. Pada dasarnya, asal memenuhi kewajiban-kewajiban serta patuh terhadap sistem hukum di Indonesia, semua investor diterima.
 
"Silakan semua masuk, tetapi ada batasan-batasan regulasi, kerangka ekonomi, keuangan, dan lain-lain yang harus dipenuhi. Investor harus memahami dan ikut batasan-batasan tersebut," ujar Jerry dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 6 Juli 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedangkan selektif menurut Jerry berarti ada banyak pertimbangan yang diberikan dalam rangka mengembangkan bisnis kripto. Antara lain kepentingan nasional, perlindungan pelanggan, serta kepentingan pelaku industri kripto itu sendiri.
 
"Jadi pertimbangan kami komprehensif. Itu berlaku bukan hanya terhadap investor tetapi juga terhadap jenis kripto dan produk-produk pengembangannya," paparnya.
 
Beberapa waktu lalu, sekitar 10 investor kripto asal Tiongkok menghubungi Jerry untuk menanyakan seputar aturan kegiatan kripto di Indonesia. Acara dilakukan secara virtual dan difasilitasi oleh Asia International Finance Holding Ltd. Dalam acara tersebut para investor menanyakan beberapa hal mendasar mengenai sikap Pemerintah Indonesia terhadap industri sektor kripto, arah regulasi, dan arah pengembangan institusi kripto.
 
Jerry kemudian mengungkapkan kripto adalah bidang yang terus berkembang dan tidak mungkin dihindari. Baginya, kripto adalah wujud riil dari transformasi ekonomi dan industri yang merupakan dampak dari perkembangan teknologi. Karena itu, menurutnya, negara harus tanggap mengenali dan mengakomodasi perubahan ini.
 
"Harus proporsional sikap kita. Kita lihat bagaimana dampak positif dan bagaimana pula potensi dampak negatifnya. Semua perlu ditimbang dan dirumuskan," tutur Jerry.
 
Saat ini kerangka institusi dan regulasi kripto tengah serius dibicarakan. Sebagai komoditas, aset kripto akan diatur dan diawasi oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) di Kemendag sebagai focal point (titik fokus).
 
Meskipun demikian, karena industri ini berkaitan juga dengan sektor lain seperti industri keuangan hingga kepentingan moneter nasional, maka Bappebti berkoordinasi dan meminta masukan juga dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Hal ini dilakukan dalam kaitannya dengan pembukaan bursa maupun pengaturan yang lain.
 
"Bappebti merupakan focal point, tetapi kami ingin memastikan bahwa kepentingan nasional terakomodasi secara optimal dalam hal ini. Itulah sebabnya koordinasi, komunikasi dan kolaborasi antar kementerian dan lembaga sangat penting dalam hal ini," pungkas Jerry.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif