Menteri BUMN Erick Thohir (kanan). Foto: Kementerian BUMN
Menteri BUMN Erick Thohir (kanan). Foto: Kementerian BUMN

Erick Pastikan Tak Ada Ruang untuk Monopoli di Industri Baterai Kendaraan Listrik

Insi Nantika Jelita • 12 Desember 2021 13:46
Jakarta: Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan pemerintah tidak memberi ruang untuk monopoli dalam mengelola ekosistem industri baterai kendaraan bermotor di Tanah Air.
 
Pemerintah membuka lebar kerja sama investasi di PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai holding BUMN untuk industri baterai kendaraan listrik. Teranyar, BUMN berencana mengakuisisi saham produsen mobil listrik asal Jerman, StreetScooter.
 
Rencananya pembelian saham itu akan dilakukan anak perusahaan IBC, Odin Automotive.

"Saya sangat membuka kerja sama dengan banyak pihak Karena ekosistemnya (kendaraan listrik) bolong. Percayalah, kita tidak memonopoli ini (IBC). Karena itu Kami beri kesempatan kepada swasta agar mengisi dan BUMN juga mengisi," tegas Erick dalam Orasi Ilmiah Menteri BUMN di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) secara virtual, dikutip Mediaindonesia.com, Minggu, 12 Desember 2021.
 
Erick menilai, ekosistem pembangunan kendaraan listrik atau EV di Indonesia masih timpang. Karenanya dibutuhkan kerja sama investasi dari asing maupun investor dalam negeri lewat IBC. Holding tersebut terdiri dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), Aneka Tambang (Antam), Pertamina, dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
 
Erick menyatakan Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam seperti nikel dan tambang sebagai bahan baku baterai EV, masih belum bisa memproduksi mobil listrik secara massal. Pemerintah pun menarik investor asing untuk terlibat dalam proyek ini.
 
"Kita paksa Korea dan Tiongkok untuk berpartner supaya jangan cuma ambil nikelnya, harus bikin pabrik di sini, upaya membuka lapangan kerja dan pelan-pelan transfer knowledge," jelasnya.
 
Erick berharap ke depan Indonesia bisa menciptakan hilirisasi kendaraan listrik dengan membangun pabrik baterai secara mandiri, tanpa mengharapkan impor produk tersebut.
 
"Jangan sampai hilirisasi baterai ini dimonopoli. Bahan bakunya diproses ke luar negeri, kita terima baterainya. Lalu, baterainya lebih mahal dari mobilnya, padahal bahan baku dari kita. Jangan jadi market lagi dengan cuma bisa kirim sumber daya alam, tidak ada hilirisasi nantinya," tutup Erick.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan