Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani
Ilustrasi. Foto: MI/Panca Syurkani

Pengamat UGM: Penaikan Moderat Pertamax Tepat dan Bijak

Antara • 02 April 2022 15:17
Jakarta: Pengamat Ekonomi dan Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengapresiasi kebijakan Pertamina yang menaikkan harga jual bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax secara moderat. Menurut Fahmy, kebijakan tersebut sudah tepat dan bijak.
 
Pertamina menaikkan harga pertamax ke level Rp12.500 per liter. Padahal, harga keekonomiannya sudah mencapai Rp16.000 per liter.
 
"Sudah bijak dan tepat. Itu kan hanya soal asumsi harga dunia yang dipakai dalam perhitungan saja. Saya tidak tahu Pertamina pakai asumsi harga berapa. Dan pastinya Pertamina tidak mungkin gegabah. Ketika mereka ketemu harga Rp12.500 per liter, itu sudah pasti dipertimbangkan dengan saksama," tutur Fahmy, seperti dilansir Antara, Sabtu, 2 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penaikan yang moderat itu, kata Fahmi, tidak semata-mata pertimbangan bisnis. "Termasuk juga pertimbangan kepedulian terhadap daya beli masyarakat yang harus tetap terjaga, karena saat ini bersamaan dengan momen Ramadhan dan Lebaran," kata dia. 
 
Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, juga menilai penaikan harga pertamax di level moderat merupakan pilihan yang bijak di tengah kondisi yang kurang kondusif saat ini. Piter menilai bahwa keputusan tersebut sengaja diambil dengan lebih mempertimbangkan agar tidak berdampak terlalu besar terhadap masyarakat, khususnya kelompok bawah. 
 
Baca: Keputusan Bijak Mempertahankan Harga Pertalite
 
"Agar meminimalisasi potensi peralihan (shifting) dari Pertamax ke Pertalite. Karena dengan harga segitu, mungkin masih ada shifting, tapi mayoritas kelas menengah tidak akan beralih. Mereka lebih sayang dengan mobil mewah mereka,” ujar Piter.
 

Tak sebabkan inflasi

Terkait potensi inflasi, Piter menyatakan kecil peluang penaikan harga Pertamax ini bisa mendongrak nilai inflasi secara signifikan. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa porsi konsumsi Pertamax terhadap keseluruhan BBM relatif kecil dibanding pertalite dan BBM jenis lain. 
 
Selain itu, konsumsi masyarakat untuk pertamax mayoritas adalah konsumsi perseorangan, bukan industri. "Beda dengan solar yang dipakai di truk, lalu truknya untuk mengangkut pasokan barang ke masyarakat," kata dia.
 
(UWA)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif