Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat menandatangani RCEP disaksikan Presiden Jokowi. Foto: dok Kemendag/Kementerian Sekretariat Negara.
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto saat menandatangani RCEP disaksikan Presiden Jokowi. Foto: dok Kemendag/Kementerian Sekretariat Negara.

Mendag: RCEP Tumbuhkan Harapan Baru Kemajuan Ekonomi di Kawasan

Ekonomi Kementerian Perdagangan asean RCEP
Ade Hapsari Lestarini • 16 November 2020 14:46
Jakarta: Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) telah ditandatangani oleh 10 negara ASEAN dan mitranya yakni Australia, Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, dan Tiongkok dengan disaksikan masing-masing Kepala Negara/Pemerintahan pada Minggu, 15 November 2020.
 
Penandatanganan tersebut dilaksanakan di akhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP ke-4 yang menjadi bagian dari rangkaian KTT ASEAN ke-37. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menandatangani perjanjian tersebut disaksikan secara langsung oleh Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor, Jawa Barat, dan disiarkan secara virtual.
 
Agus mengatakan penandatanganan ini menandai selesainya perundingan RCEP yang dimulai pada Mei 2013 dan menumbuhkan harapan baru kemajuan ekonomi bagi kawasan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penandatanganan RCEP hari ini merupakan pencapaian tersendiri bagi Indonesia di kancah perdagangan internasional. Kita patut berbangga karena RCEP lahir atas gagasan Indonesia pada 2011 dan proses perundingannya hingga selesai sepenuhnya dipimpin salah satu putra terbaik Indonesia," jelas Agus, dalam keterangan resminya, Senin, 16 November 2020.
 
Menurut diaRCEP merupakan kesepakatan perdagangan regional terbesar di dunia dan diharapkan dapat mendorong percepatan pemulihan ekonomi dunia dari resesi global terparah sejak perang dunia kedua ini.
 
RCEP menjadi perjanjian perdagangan terbesar di dunia di luar Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) ditinjau dari cakupan dunia untuk total Produk Domestik Bruto (PDB) (30,2 persen), investasi asing langsung (FDI) (29,8 persen), penduduk (29,6 persen), dan perdagangan (27,4 persen) yang sedikit di bawah EU-27 yang tercatat 29,8 persen.
 
Perjanjian RCEP dapat dikatakan sangat komprehensif, meskipun tidak selengkap dan sedalam perjanjian regional lainnya, seperti Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CP-TPP).
 
Namun, dalam merespons dampak ekonomi dari covid-19, seorang pengamat ekonomi dari Hinrich Foundation, Stephen Olson, menyatakan, dalam beberapa tahun ke depan rantai nilai (value chain) akan cenderung lebih pendek, memanfaatkan kedekatan geografis, dan menghindari rantai nilai lintas samudra.
 
Dalam konteks ini, RCEP yang secara geografis menyatukan Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru akan lebih cepat tumbuh dan menguat dibandingkan CP-TPP atau Perjanjian Trans-Atlantik yang sementara ini dihentikan perundingannya.
 
Mendag menegaskan RCEP akan mendorong Indonesia lebih jauh ke dalam rantai pasok global (global supply chain) dengan memanfaatkan backward linkage, yakni memenuhi kebutuhan bahan baku atau bahan penolong yang lebih kompetitif dari negara RCEP lainnya; dan forward linkage, yakni dengan memasok bahan baku atau bahan penolong ke negara RCEP lainnya.
 
"Saya yakin hal tersebut akan mengubah RCEP menjadi sebuah 'regional power house'. Indonesia harus memanfaatkan arah perkembangan ini dengan segera memperbaiki iklim investasi, mewujudkan kemudahan lalu-lintas barang dan jasa, meningkatkan daya saing infrastruktur dan suprastruktur ekonomi, dan terus mengamati serta merespons tren konsumen dunia," pungkas dia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif