Ilustrasi masuknya investasi asing lewat Lembaga Pengelola Investasi (LPI) - - Foto: dok MI
Ilustrasi masuknya investasi asing lewat Lembaga Pengelola Investasi (LPI) - - Foto: dok MI

SWF Penting, Sebab Dana di Dalam Negeri Tak Cukup Biayai Pembangunan

Ekonomi infrastruktur Investasi Asing Sovereign Wealth Fund (SWF)
Husen Miftahudin • 26 Februari 2021 15:23
Jakarta: Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Mirza Adityaswara menyatakan pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Funds (SWF) menjadi hal yang krusial saat ini. Sebab dana-dana yang ada di dalam negeri tak cukup mampu membiayai seluruh pembangunan infrastruktur.
 
"Secara makro, Indonesia kenapa perlu dana dari SWF? Karena Indonesia ini dana dari dalam negerinya kurang," ungkap Mirza dalam diskusi virtual LPPI yang dikutip Jumat, 26 Februari 2021.
 
Penghimpunan dana-dana yang ada di perbankan saja hanya terdapat sekitar 35 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia yang jumlahnya mencapai Rp17 ribu triliun. Dari total tersebut, pembiayaan yang bisa disalurkan perbankan pun maksimal hanya sebanyak 32 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain dari perbankan, dana-dana yang bisa digunakan untuk membiayai pembangunan berasal dari asuransi, dana pensiun, serta reksa dana. Sayangnya, jika ketiga dana-dana tersebut digabung dan ditambah dengan dana yang ada di perbankan, masih juga tak cukup untuk membiayai pembangunan di seluruh penjuru tanah air.
 
Asuransi misalnya yang memiliki dana sebanyak Rp1.000 triliun. Lalu dana pensiun yang jika dijumlahkan, hanya sebanyak Rp400 triliun. Kemudian reksa dana, yang jika dikumpulkan hanya sebanyak Rp500 triliun sampai Rp600 triliun.
 
"PDB Indonesia itu Rp17 ribu triliun. Jadi kalau kita kumpulkan, dari perbankan, asuransi, dana pensiun, reksa dana, itu mungkin hanya sekitar 55 persen dari PDB Indonesia," tuturnya.
 
Oleh karena itu, tegas Mirza, Indonesia perlu mengundang negara-negara lain untuk menginvestasikan dana-dananya ke Indonesia demi terselenggaranya pembangunan yang merata. Dana-dana asing itu masuk ke Indonesia melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN).
 
Selain di pasar SBN, dana-dana asing itu juga masuk di global bonds dari korporasi swasta dan BUMN.SBN yang dibeli asing dan global bonds yang diterbitkan berbagai korporasi Indonesia tercatat sebagai Utang Luar Negeri. Oleh karena itu, berbagai portofolio tersebut harus dijaga rasionya pada level yang prudent dan sehat.
 
"Karena Utang Luar Negeri itu harus dibayar dengan devisa, maka Utang Luar Negeri itu sedapat mungkin harus digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang menghasilkan devisa. Maka dari itu teman-teman di Bank Indonesia, Kementerian Perdagangan, atau Bapak Presiden sendiri selalu mendorong supaya Indonesia mendorong aktivitas ekspor, mendorong aktivitas pariwisata," tegas Mirza.
 
Dengan demikian, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia periode 2013-2019 itu berharap kehadiran SWF mampu menarik investor besar untuk tanamkan modalnya di Indonesia. Dengan begitu, aliran modal asing bisa digunakan untuk membiayai pembangunan.
 
"SWF ini tentu diharapkan dana bisa masuk dan stay di Indonesia, di satu sisi bisa kembangkan aset tersebut, aset infrastruktur dan aset lain. Tapi tentu negara ingin dana (asing) bisa stay lebih lama. Kita ingin masuk hari ini, ikut kembangkan perusahaan government, ikut dijaga, dan kemudian bisa keluar tiga tahun lagi, lima tahun lagi," pungkas Mirza.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif