Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan neraca pangan nasional tersedia dan terkendali secara baik. Foto: MI/Zaskia Anindya Putri
Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan neraca pangan nasional tersedia dan terkendali secara baik. Foto: MI/Zaskia Anindya Putri

Mentan Pastikan Stok 11 Komoditas Pangan Dasar Terkendali

Ekonomi pangan mentan virus corona
Husen Miftahudin • 26 April 2020 19:28
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan neraca pangan nasional tersedia dan terkendali secara baik. Bahkan sebanyak 11 komoditas pangan dasar dipastikan cukup untuk menunjang kebutuhan masyarakat di tengah wabah pandemi virus korona (covid-19).
 
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo membeberkan 11 komoditas pangan dasar tersebut, yakni beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi, daging kerbau, daging ayam ras, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng.
 
"Sebanyak 11 komoditas dari neraca pangan nasional yang kita pegang dan dijadikan referensi oleh kita semua ini sangat dalam kendali yang mampu dan dalam kondisi aman terkendali," ujar Syahrul dalam telekonferensi di Jakarta, Minggu, 26 April 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Khusus untuk beras, ungkapnya, Kementerian Pertanian punya tiga model proyeksi produksi dan konsumsi makanan pokok Indonesia tersebut. Dalam ketiga model tersebut, Syahrul mencatat kondisi stok beras dari produksi sebelumnya (carry over stock) sebanyak 3,5 juta ton.
 
Model pertama adalah pendekatan dengan kondisi produksi dan konsumsi yang optimis. Model ini memprakirakan produksi beras pada Februari hingga Mei 2020 mencapai 12,4 juta ton ditambah dengan stok yang ada di gudang Bulog dan penggilingan, sehingga angka ketersediaan beras mencapai sekitar 15 juta ton.
 
"Kebutuhan kita dari Februari ke Mei untuk kita makan itu 7,6 juta lebih. Dengan demikian dari stok yang ada ditambah dengan produksi yang ada karena itu puncak panen kita, maka masih tersedia 8 juta ton lebih sisanya," papar dia.
 
Dalam kondisi moderat, lanjutnya, stok yang ada atau carry over stock mencapai 3,5 juta ton ditambah dengan produksi beras selama Februari hingga Mei 2020. Dalam hal ini produksi beras yang dihasilkan pada periode tersebut hanya sekitar 11 juta ton.
 
"Dari angka itu dikurangi perkiraan kebutuhan yang kita naikkan menjadi 7,6 juta ton atau 7,9 juta ton sampai 8 juta ton. Maka masih tersisa kurang lebih sekitar 7 juta ton stok akhir di bulan Mei itu," ucap Syahrul.
 
Sementara model dengan kondisi pesimis, Kementan mendata ketersediaan stok beras mencapai 6 juta ton sampai akhir Mei 2020. Angka tersebut didapat setelah prakiraan produksi beras selama Februari-Mei 2020 mencapai 11,2 juta ton ditambah stok yang ada atau carry over stock sebesar 3,5 juta ton dan dikurangi prakiraan kebutuhan yang mengalami kenaikan.
 
"Kita punya stok 3,5 juta ton kemudian ada produksi 11,2 juta ton. Sedangkan kebutuhan kita naikkan prakiraannya menjadi 8,3 juta ton, maka masih tersedia 6 juta ton sampai akhir Mei 2020," urai Syahrul.
 
Ia mengklaim ketiga model tersebut didapat melalui penginderaan (satelit) jarak jauh dan rapat virtual bersama 400 kabupaten. Laporan ratusan kabupaten penghasil beras tersebut pun sudah divalidasi, sehingga hasilnya kurang lebih memiliki kemiripan jumlah ketersediaan stok beras.
 
"Kita masih yakin sampai tida bulan ke depan ketersediaan beras kita dari gabah kering giling yang ada dan panen-panen yang terjadi, maka itu masih aman dan terkendali. Dengan demikian, Bulan Puasa dan Idulfitri semua dalam kendali yang cukup aman," tutup Syahrul.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif