Ilustrasi beras. Foto MI/Benny Bastiandy
Ilustrasi beras. Foto MI/Benny Bastiandy

Kementan: Ketersediaan Beras Masih Aman

Despian Nurhidayat • 29 Desember 2022 10:12
Jakarta: Koordinator Data dan Evaluasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Batara Siagian mengatakan ketersediaan beras sampai saat ini masih aman.
 
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), per minggu ketiga Desember 2022, stok beras mencapai 6,04 juta ton, dengan sebaran utamanya berada di rumah tangga yang mencapai 3,15 juta ton, 1,28 juta ton di penggilingan dan 866 ribu ton di pedagang. 
 
"Berdasarkan data KSA BPS (Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik) 2022 diperkirakan terjadi surplus beras sebesar 1,74 juta ton," ungkapnya dilansir Media Indonesia, Kamis, 29 Desember 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, Kementan memproyeksikan ketersediaan beras pada tahun 2023 akan kembali surplus walaupun tidak terlalu besar.
 
"Maka dari itu, pemerintah harus mendorong agar Bulog dan Bapanas melakukan perbaikan regulasi agar dapat menyerap beras secara optimal pada masa panen raya yang diperkirakan terjadi pada periode bulan Februari hingga Juli 2023," tuturnya.
 
Baca juga: Soal Beras dan Pangan, Mendag Bicara Soal Stimulus Atasi Masalahnya 

Selain itu, menyoal ketersediaan beras, berdasarkan hasil Survei Cadangan Beras Nasional (SCBN) 2022 yang dilakukan secara bersama-sama oleh Kementan, BPS dan Bapanas, surplus beras mencapai lebih dari tujuh juta ton. Angka ini merupakan akumulasi surplus dari beberapa tahun terakhir yang telah menjadi stok beras pada periode SCBN yaitu pada akhir Juni 2022. 
 
"Jika Bulog merasa beras ini tidak tersedia di lapangan, karena memang surplus tersebut bukan surplus saat ini, melainkan akumulasi surplus yang saat ini berada sebagian besar di rumah tangga, pedagang dan penggilingan," tegasnya.
 
Menurut Batara, permasalahan beras saat ini justru berasal dari ketidakmampuan Bulog dalam menyerap beras untuk memenuhi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) pada saat panen raya periode Maret-April 2022, dengan alasan harga saat itu sudah di atas HPP (Harga Pokok Penjualan), sehingga surplus beras saat panen raya sebagian besar diserap oleh penggilingan swasta dan berada di rumah tangga. 
 
"Seharusnya Bulog dapat berkoordinasi dengan Bapanas dan Kementerian Perdagangan untuk mencari solusi agar dapat membeli beras pada saat panen raya tersebut tanpa memengaruhi peningkatan inflasi beras," ujarnya.
 
"Kebijakan menyerap beras oleh Bapanas selaku regulator dan Bulog selaku operator pada masa paceklik seperti sekarang ini tentu saja sangat tidak tepat dan akan memicu inflasi beras. Saat ini sebaiknya Bulog melepas sisa stok yang ada, sehingga pada saat panen raya yang diperkirakan dimulai pada Februari 2023 Bulog dapat menyerap beras baru dari petani secara optimal," pungkasnya.
  
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id.
 
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif