Dilansir dari keterangan resmi Philips Future Health Index 2026 pada Selasa, 1 September 2026, Presiden Direktur Philips Indonesia, Astri Ramayanti Dharmawan, mengatakan bagaimana AI berdampak positif terhadap kualitas dan efisiensi pelayanan.
“Pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan melainkan bagaimana AI telah membantu tenaga kesehatan memiliki lebih banyak waktu, memperkuat pengambilan keputusan, dan membantu mereka memberikan pelayanan kepada lebih banyak pasien.”
Namun, di balik manfaat tersebut muncul persoalan baru, yaitu penggunaan AI berkembang lebih cepat dibandingkan kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola yang diperlukan agar teknologi ini bisa digunakan secara aman dan konsisten.
AI Mulai Memangkas Waktu Kerja Tenaga Kesehatan
Dalam keterangan resmi Philips Future Health Index 2026, sebanyak 88 persen tenaga kesehatan Indonesia mengatakan AI telah meningkatkan efisiensi alur kerja, jauh di atas rata-rata global sebesar 71 persen. Sebanyak 87 persen juga melaporkan akses yang lebih cepat terhadap hasil diagnosis, sementara 82 persen menyebut AI membantu mempercepat pengambilan keputusan terkait diagnosis. Selain itu, 75 persen tenaga kerja menyatakan kemudahan akses terhadap data pasien, jauh lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 57 persen.Dampaknya mulai terasa pada kapasitas pelayanan, dengan 69 persen tenaga kesehatan mengatakan alat berbasis AI memungkinkan mereka melayani lebih banyak pasien dibandingkan sebelumnya. Bahkan, mereka yang merasakan peningkatan kapasitas rata-rata dapat menangani sekitar empat pasien tambahan per minggu.
Adopsi Melesat, Tapi Pelatihannya Belum Memadai
Penggunaan AI di tempat kerja juga terus meningkat, dengan 63 persen tenaga kesehatan mengaku pemakaian alat berbasis AI yang disediakan institusi mereka bertambah dalam setahun terakhir. Masalahnya, 55 persen mengatakan pelatihan AI masih sulit didapat, terbatas, atau tidak merata, sedangkan 62 persen menyebut belum ada proses yang jelas untuk memantau alat AI yang digunakan.Kesenjangan ini bahkan membuat 58 persen tenaga kesehatan beralih ke alat AI pribadi ketika teknologi yang tersedia di tempat kerja belum memenuhi kebutuhan mereka. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena alat yang digunakan secara pribadi belum tentu tervalidasi secara klinis, terintegrasi dengan aman, atau memenuhi standar privasi dan akuntabilitas yang dibutuhkan layanan kesehatan.
AI Jadi Rekan Kerja, Tapi Manusia Tetap Pegang Kendali
Meski begitu, tenaga kesehatan Indonesia tidak melihat AI sebagai pengganti manusia. Sebanyak 94 persen mengatakan peran mereka kini sudah atau akan semakin fokus pada pekerjaan klinis bernilai tinggi, sementara 83 persen percaya AI dapat membantu mereka bekerja secara optimal sesuai kemampuan profesionalnya.Batasnya juga cukup jelas, di mana 94 persen menilai keterlibatan manusia tetap penting, dan 91 persen percaya seluruh hasil AI harus berada di bawah pengawasan manusia. Bahkan, kurang dari satu dari sepuluh tenaga kesehatan merasa nyaman jika AI mengambil keputusan dan bertindak secara mandiri dalam sebagian besar aplikasi klinis.
Bagi pasien, transparansi juga menjadi isu penting. Sebanyak 57 persen pasien Indonesia mengaku menggunakan AI generatif untuk mencari informasi kesehatan secara online, tetapi 80 persen tenaga kesehatan mengatakan mereka pernah harus meluruskan informasi keliru yang dibawa pasien dari AI.
Karena itu, Astri menilai Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan AI sekaligus menjaga aspek kemanusiaan dalam layanan kesehatan.
“AI dapat memperkuat sisi kemanusiaan dalam layanan kesehatan ketika dirancang berdasarkan kebutuhan klinis, terintegrasi dalam proses pelayanan, dan dikelola secara transparan,” tuturnya. (Wisa Irena Br Sitepu)