PT PLN (Persero) kini bisa mulai merasakan harga gas sebesar USD6 per million british thermal units (MMBTU) dari sebelumnya USD8,39 per MMBTU. Foto: Dok.MI/M.Irfan
PT PLN (Persero) kini bisa mulai merasakan harga gas sebesar USD6 per million british thermal units (MMBTU) dari sebelumnya USD8,39 per MMBTU. Foto: Dok.MI/M.Irfan

Aturan Terbit, PLN Bisa Nikmati Harga Gas USD6 per MMBTU

Ekonomi gas pln
Suci Sedya Utami • 27 April 2020 16:36
Jakarta: PT PLN (Persero) kini bisa mulai merasakan harga gas sebesar USD6 per million british thermal units (MMBTU) dari sebelumnya USD8,39 per MMBTU.
 
Penurunan harga tersebut telah resmi diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) nomor 10 tahun 2020 tentang perubahan atas Peraturan Menteri ESDM nomor 45 tahun 2017 tentang pemanfaatan gas bumi untuk pembangkit tenaga listrik.
 
Mengutip beleid payung hukum tersebut, Senin, 27 April 2020, dalam pasal 8 ayat 1 dinyatakan bahwa PLN dan Badan Usaha Pembangkit Tenaga Listrik (BUPTL) dapat membeli gas bumi melalui pipa dengan harga di pembangkit tenaga listrik (plant gate) paling tinggi USD6 per MMBTU.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di pasal 8 ayat 2 diatur apabila harga gas di pembangkit lebih tinggi dari USD6 per MMBTU atau gas buminya berasal dari liquefied natural gas (LNG) atau compressed natural gas (CNG), maka menteri akan menetapkan harga di pembangkit berdasarkan perhitungan penyesuaian terhadap harga gas bumi yang dibeli dari kontraktir dan ditambahkan engan biaya penyaluran yang terdiri atas biaya transportasi serta biaya midstream gas bumi.
 
Dalam pasal 8 ayat 3 dinyatakan bahwa penyesuaian terhadap harga gas bumi tidak mempengaruhi besaran penerimaan yang menjadi bagian kontraktor. Artinya penerimaan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) di hulu dipastikan tidak akan berkurang.
 
"Penyesuaian harga gas bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 merupakan pengurangan dari penerimaan bagian negara yang diperhitungkan melalui bagi hasil sesuai kontrak kerja sama suatu wilayah kerja pada tahun berjalan," bunyi pasal 8 ayat 4.
 
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) atau Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) juga diminta untuk menggordinasikan penyesuaian harga tersebut.
 
Kemudian di pasal 13 ayat 1 dikatakan bahwa dalam rangka pengembangan pembangkit listrik tenaga gas mulut sumur, PLN atau BUPTL dapat membangun pembangkit tersebut.
 
Setelahnya di pasal 13 ayat 5a diatur bahwa harga gas bumi untuk pembanglit listrik tenaga gas mulut sumur paling tinggi juga sebesar USD6 per MMBTU.
 
Ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan pada 7 April 2020.
 
Ciptakan Penghematan
 
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan penurunan harga gas untuk pembangkit akan menciptakan penghamatan bagi PLN dan ujungnya berdampak positif bagi negara. Ia bilang jika diturunkan menjadi USD6 per MMBTU maka akan ada penghematan seberas USD2,39 per BBTU dikalikan dengan volume gas yang dibutuhkan pembangkit.
 
"Kalau dari sisi hilirnya, PLN jelas saving. Savingnya jadi Rp18,58 triliun datang dari subsidi Rp4,38 triliun dan kompensasi Rp14,2 triliun," kata Rida.
 
Rida menjelaskan biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik dalam anggaran belanja PLN 2020 sebesar Rp359,03 triliun. Dari jumlah tersebut sebesar 41 persen atau Rp146,67 triliun dialokasikan untuk biaya bahan bakar.
 
Dari besaran biaya bahan bakar, gas menjadi komponen bahan bakar terbesar dalam pembentukan BPP. Dia menyebutkan porsi gas sebesar Rp60,98 triliun atau 38,36 persen dari total biaya bahan bakar. Sebagai perbandingan dengan bahan bakar lainnya, batu bara sebesar Rp56,26 triliun, BBM dan BBN sebesar Rp24,17 triliun dan energi baru terbarukan sebesar Rp5,24 triliun.
 
Namun, kata Rida, kendati menjadi komponen biaya terbesar, jumlah volume atau kapasitas listrik yang dihasilkan dari hasil pembangkit gas hanya 65,24 terawatt hours (Twh) atau sekitar 21,28 persen dari total volume penyediaan tenaga listrik. Masih lebih kecil dibandingkan dengan volume yang dihasilkan pembangkit batu bara sebesar 187,52 TWh.
 
"Maka turunnya harga gas akan sangat berpengaruh pada besaran BPP yang pada ujungnya akan mengutangi beban APBN (subsidi dan kompensasi)," ujar Rida.
 
Adapun BPP merupakan salah satu komponen untuk pembentukan tarif listrik yang berlaku bagi konsumen. Makin rendah BPP, maka tarif listrik juga akan makin murah.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif