Ilustrasi. Foto: Dok.MI
Ilustrasi. Foto: Dok.MI

Produsen Tahu Tempe Masih Mediasi Harga dengan Pemerintah

Ekonomi harga kedelai Tempe
Suci Sedya Utami • 04 Januari 2021 17:06
Jakarta: Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) masih melakukan mediasi dengan pemerintah terkait kenaikan harga tempe dan tahu imbas dari tingginya harga kedelai yang mayoritas berasal dari impor.
 
Ketua Gakoptindo Aip Syarifudin mengatakan pihaknya telah bertemu dengan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo serta Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki. Rencananya pihaknya juga akan bertemu dengan Menteri Perdagangan M. Lutfi.
 
Ia mengatakan hingga saat ini perundingan mengenai solusi dari kenaikan harga kedelai memang belum menemukan titik temu. Ia bilang butuh waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk mendapatkan keputusan dari pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi sudah ketemu dengan Syahrul Yasin Limpo, sudah koordinasi dengan Suhanto (Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan), Teten Masduki. Ini semua sudah, tapi kan tidak bisa sekaligus langsung selesai. jadi makanya saya bilang masih dibahas, karena untuk kebijakan itu enggak bisa satu instansi satu departemen, tapi mesti Menko Perekonomian," kata Aip pada Medcom.id, Senin, 4 Januari 2021.
 
Namun agar tetap berproduksi, produsen pun terpaksa menaikkan harga di seluruh wilayah di Tanah Air. Kenaikannya sekitar 25 persen.
 
Untuk tahu dan tempe ukuran kecil harganya naik dari Rp4.000 menjadi Rp5.000. Sementara untuk ukuran besar naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000.
 
Pada Desember 2020 harga kedelai dunia tercatat sebesar USD12,95 per bushels, naik sembilan persen dari bulan sebelumnya yang tercatat USD 11,92 per bushels. Berdasarkan data The Food and Agriculture Organization (FAO), harga rata-rata kedelai pada Desember 2020 tercatat sebesar USD461 per ton, naik enam persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat USD435 per ton.
 
Harga kedelai impor di tingkat perajin mengalami penyesuaian dari Rp9.000 per kilogram (kg) pada November 2020 menjadi Rp9.300 hingga 9.500 per kg pada Desember 2020 atau mengalami kenaikan sekitar 3,33 persen sampai 5,56 persen.
 
Faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai dunia diakibatkan lonjakan permintaan kedelai dari Tiongkok kepada Amerika Serikat selaku eksportir kedelai terbesar dunia. Pada Desember 2020, permintaan kedelai Tiongkok naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton.
 
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif