Ilustrasi penggunaan teknologi pertanian - - Foto: Medcom/ Daviq Umar Al Faruq
Ilustrasi penggunaan teknologi pertanian - - Foto: Medcom/ Daviq Umar Al Faruq

Begini Pemanfaatan Teknologi untuk Kawasan Food Estate di Kalteng

Ekonomi Kementerian Pertanian teknologi pertanian berita kementan Food Estate
Eko Nordiansyah • 10 Oktober 2020 17:02
Jakarta: Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy mengatakan pengembangan kawasan food estate di Kalimantan Tengah menggunakan teknologi optimalisasi lahan rawa. Komponen teknologi ini diterapkan secara intensif guna meningkatkan produk dan indeks pertanaman (IP).
 
Komponen teknologi dengan sebutan Rawa Intensif, Super dan Aktual (RAISA) yakni dengan menggunakan varietas unggul baru (VUB) potensi hasil tinggi, pengolahan lahan, tata air mikro (TAM) pembenah tanah, pemupukan berimbang, pengendalian OPT terpadu dan mekanisasi pertanian .
 
"Food Estate merupakan budidaya yang multi komunitas. Jadi para petani tidak hanya menanam padi bisa menanam komoditas lain yakni hortikultura, tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan seperti tanam jeruk, pisang yang bisa di tanam di pinggir sawah," kata Sarwo dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 10 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sarwo menjelaskan pengembangan food estate di Provinsi Kalteng dengan lahan percontohan seluas 30 ribu hektare (ha) akan digarap tahun ini. Terdiri dari lahan seluas 10 ribu ha berada di Kabupaten Pulang Pisau dan lahan seluas 20 ribu ha berada di Kabupaten Kapuas.
 
"Lahan ini lahan intensifikasi artinya jaringan irigasi nya sudah baik, baik itu irigasi primer, irigasi sekunder maupun irigasi tersier itu yang kita optimalkan di 2020 ini seluas 30 ribu ha," ungkapnya.
 
Sarana alat mesin pertanian pun disediakan dengan total mencapai 1.232 unit yang terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat dan transplanter. Selain itu, teknologi drone juga dihadirkan untuk menanam dengan sistem tabur.
 
Ketersediaan sarana produksi untuk 30 ribu ha pada 2020 ini sudah terpenuhi, terdiri dari dolomit satu ton per ha, herbisida empat liter per hektar, pupuk hayati empat liter per ha, urea 200 kg per ha, NPK 200 kg per ha. Ketersediaan benih pun tercukupi meliputi benih padi, benih hortikultura, kelapa genjah, itik dan kandangnya.
 
"Dengan percontohan ini yang sudah kita buat, kita mendorong para petani kita untuk mengubah mindset dari pola bertani tradisional ke pola bertani secara modern tentunya dengan menggunakan mekanisasi," pungkas Sarwo.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif