Antivirus berbasis eucalyptus. Foto: dok Kementerian Pertanian
Antivirus berbasis eucalyptus. Foto: dok Kementerian Pertanian

Sebanyak 20 Pasien Positif Covid-19 Rasakan Manfaat Eucalyptus

Ilham wibowo • 11 Mei 2020 12:48
Jakarta: Prototipe inovasi inovasi antivirus berbahan dasar eucalyptus buatan Kementerian Pertanian (Kementan) sudah digunakan oleh pasien positif covid-19 di Indonesia. Tingkat kesembuhan dirasakan meningkat setelah melakukan terapi pengobatan.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementan Fadjry Djufry mengatakan bahwa temuan ini sangat menggembirakan di tengah merebaknya pandemi covid-19 di Tanah Air. Hasil penelitian yang dilakukan secara ilmiah, eucalyptus efektif membunuh virus 80-100 persen.
 
"Ada beberapa staf di Kementan yang hasil swabnya positif (covid-19) dan itu yang kami uji, langsung mereka testimoni sendiri," kata Fadjri kepada Medcom.id, Senin, 11 Mei 2020.

Bahan aktif pada eucalyptus, kata Fadjri, bisa digunakan untuk menghindari penularan covid-19, bahkan penyembuhan. Pasien terpapar covid-19 yang diterapi mengaku merasakan lega pada saluran pernapasan dan hilangnya lendir di tenggorokan.
 
"Kami sudah berikan ke 20 orang, kebetulan ada staf Kementan positif covid-19 dan hasil testimoni dari 20 orang itu sudah diberikan inhalasi dan roll on, lalu merespons positif, proses pernafasan semakin bagus dan arah kesembuhan semakin bagus," ungkapnya.
 
Bahan aktif utama pada eucalyptus yang diteliti Balitbangtan Kementan terdapat pada cineol 1,8 atau eucalyptol yang memiliki manfaat sebagai antimikroba dan antivirus melalui mekanisme Mpro. Adapun Mpro merupakan main protease (3CLPro) yang menjadi target potensial dalam penghambatan replikasi semua jenis virus korona.
 
"Mereka (pasien) rutin meneteskan ke masker, pernafasan sudah lancar dan cairan di tenggorokan sudah tidak ada. Mereka fitnes semakin bagus, bahkan ada yang sempat menggunakan ventilator kemudian relatif dilepas dan ini testimoni yang bagus," paparnya.
 
Fadjri menegaskan bahwa prototipe inovasi antivirus tersebut bisa langsung digunakan serta diproduksi massal dalam kondisi darurat tanpa perlu melakukan uji klinis lebih mendalam. Sebab, proses pengobatan dilakukan bukan diminum atau disuntik ke tubuh, melainkan dengan dioles dan dihirup.
 
"Kenapa saya berani menyatakan tanpa uji klinis dan berani uji massal. Ini minyak oles yang selama ini sering digunakan masyarakat Indonesia dan beredar tanpa perlu uji klinis," tuturnya.
 
Ke depan, Fadjri juga berencana merekam secara ilmiah bagaimana pasien positif covid-19 sembuh dengan eucalyptus. Balitbangtan Kementan juga akan terbuka dengan kerja sama kementerian terkait termasuk ilmuwan di perguruan tinggi.
 
"Kami berani (klaim) karena sudah kami uji. Berapa dosis yang bisa membunuh virus 100 persen tapi tidak toksid kepada manusianya, enggak perlu uji klinis karena kami punya hasil riset," ucapnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEV)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan