Impor BBM. Foto : MI.
Impor BBM. Foto : MI.

Kompresor Gas PLTG Maleo Menghemat Impor BBM

Ekonomi Gas Pertamina Ekonomi Indonesia pltg
Eko Nordiansyah • 21 April 2022 14:51
Jakarta: Pemerintah mendorong penggunaan energi gas untuk membawa Indonesia menuju penggunaan energi ramah lingkungan. Proyek fasilitas jasa kompresi gas Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Maleo, Gorontalo menjadi salah satu sarana Pemerintah untuk mendukung kebijakan ini.
 
Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan penggunaan energi gas lebih ramah lingkungan dan lebih hemat bila dibandingkan dengan EBT lainnya. Bahkan pemanfaatan gas akan menghemat impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
 
"Gas alam termasuk energi primer yang cukup bersih. Apalagi sebenarnya Indonesia mempunyai cadangan gas yang cukup besar," kata dia saat dihubungi wartawan, Kamis, 21 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, Indonesia bisa melakukan optimalisasi terhadap produk gas. Namun, kendala terbesar adalah harga gas yang cenderung lebih mahal dari pada komoditas batu bara sehingga membuat biaya pokok produksi penyediaan listriknya menjadi bertambah.

Emisi karbon

Padahal, ia menambahkan Indonesia sudah menuju net zero emission (NZE) pada 2060. Pemerintah juga akan menghentikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dengan teknologi carbon capture utilization and storage (CCUS) untuk mengurangi emisi karbon.
 
"Melihat target 2060 pada NZE yang dipilih Indonesia, ada target yang lebih dekat yaitu nationally determined contribution (NDC). NDC ini bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 29 persen pada 2030," ungkapnya.
 
Untuk merealisasikan PLTU gas yang ramah lingkungan, PT PLN Gas & Geothermal (PLN GG) bersama Pelayanan Energi Batam (PEB) dengan Kerja Sama Operasi (KSO) PT Atamora Tehnik Makmur-PT Sinergi Pratama Sukses (SPS) mengoperasikan proyek fasilitas jasa kompresi gas PLTG Maleo, Gorontalo. Gas liquefied natural gas (LNG) dipasok dari Bontang untuk PLTG 100 Megawatt.
 
Pasokan LNG dari Bontang itu diantar menggunakan kapal LNG milik PT GTS Internasional Tbk yang dicarter oleh PT Pelindo Energi Logistik (PEL). Lantas, gas cair tersebut diubah menjadi gas oleh kapal FSRU yang juga dioperasikan oleh GTS Internasional.
 
Proyek tersebut memiliki kemampuan output 24 standar kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MSCFD) untuk membangkitkan PLTG Maleo dengan kapasitas 100 MW. Proyek ini merupakan kelanjutan dari Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 13 Tahun 2020 dan diperbarui dengan Kepmen ESDM Nomor 2 Tahun 2022.
 
Direktur Utama PLN GG Mohammad Riza Affiandi mengatakan, infrastruktur tersebut merupakan fasilitas konversi BBM menjadi LNG untuk pasokan listrik di PLTG Maleo yang dimulai pada Juli-Agustus 2021. Konversi BBM High Speed Diesel (HSD) menjadi gas ini dapat menurunkan biaya produksi PLTG sekaligus lebih ramah lingkungan dan membantu mengurangi impor BBM.
 
Sementara itu, Direktur Proyek KSO Atamora-SPS Doliano M. Siregar menyampaikan, gas dari LNG cargo yang ditransfer ke FSRU disalurkan ke pembangkit 100 MW lewat fasilitas kompresi milik KSO ATM-SPS. Menurutnya, potensi yang dimiliki dari sumur gas dalam negeri masih cukup berlimpah.
 
"LNG untuk regasifikasi merupakan produksi dari sumur-sumur gas dalam negeri. Cadangannya masih berlimpah. PLTG Maleo sendiri berfungsi untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo," pungkas dia.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif