Ilustrasi. Foto: MI/Yuniar
Ilustrasi. Foto: MI/Yuniar

LPEM: Penurunan Inflasi Juni Akibat Normalisasi Harga Pascaramadan

Husen Miftahudin • 21 Juli 2021 17:55
Jakarta: Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengatakan meredanya tekanan inflasi makanan dan transportasi pascalibur Ramadan membuat tekanan harga menurun di Juni.
 
Sejalan dengan permintaan agregat yang masih lemah, inflasi Juni turun ke level terendah dalam 10 bulan terakhir sebesar 1,33 persen (yoy) dari 1,67 persen (yoy) pada Mei 2021.
 
Jika dilihat dari kelompok pengeluaran, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tidak mengherankan jika inflasi makanan turun menjadi 1,85 persen (yoy) pada Juni dibandingkan 3,05 persen (yoy) pada bulan sebelumnya. Inflasi transportasi juga melambat menjadi 0,09 persen (yoy) di Juni dari 0,85 persen (yoy) pada Mei.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebaliknya, inflasi perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat menjadi 3,53 persen (yoy) pada Juni dari 3,08 persen (yoy) pada Mei dan inflasi peralatan rumah tangga meningkat dari 1,59 persen (yoy) pada Mei menjadi 1,73 persen (yoy) pada bulan ini.
 
"Namun, gabungan kedua kelompok ini hanya memberikan kontribusi inflasi 0,03 persen, sehingga secara keseluruhan inflasi bulan ini lebih rendah," ungkap Riefky dalam Analisis Makroekonomi Edisi Juli 2021, Rabu, 21 Juli 2021.
 
Riefky menekankan bahwa selama lebih dari setahun inflasi berada di bawah target bank sentral 2-4 persen. Ia pun memperkirakan tekanan harga akan tetap moderat dalam beberapa bulan mendatang, terutama setelah Presiden Jokowi memutuskan untuk memberlakukan PPKM darurat dalam menanggapi lonjakan kasus covid-19 baru-baru ini.
 
Inflasi inti, yang mengecualikan komponen bergejolak dan harga yang diatur pemerintah tercatat sebesar 0,14 persen (mtm) pada bulan ini, turun dari 0,24 persen (mtm) pada Mei 2021. Secara tahunan, inflasi inti tercatat sebesar 1,49 persen(yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,37 persen (yoy).
 
"Melambatnya inflasi inti bulan ini terutama didorong oleh normalisasi permintaan pasca perayaan Idulfitri yang mencatatkan inflasi yang relatif rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat melemahnya permintaan dan musim panen," tuturnya.
 
Harga emas yang menjadi penyumbang utama inflasi inti, turun tajam pada pertengahan Juni karena the Fed mengumumkan untuk menaikkan Fed Funds Rate dua kali pada 2023. Harga emas kemudian secara bertahap meningkat hingga pertengahan Juli 2021.
 
"Penjualan ritel kendaraan bermotor, kontributor utama lainnya untuk inti inflasi, mencapai lebih dari 65 ribu pada Juni 2021, meningkat 2,46 persen (mtm) dibandingkan bulan lalu. Pembeli menunggu pengumuman resmi perpanjangan diskon pajak barang mewah, yang diumumkan pada 2 Juli lalu, sebelum memutuskan membeli mobil," ucap Riefky.
 
Berbeda dengan inflasi inti, komponen bergejolak dan harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi bulanan masing-masing sebesar 0,21 persen (mtm) dan 1,23 persen (mtm). Secara tahunan, inflasi komponen bergejolak tercatat sebesar 1,60 persen (yoy) jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 3,66 persen (yoy).
 
Selain itu, inflasi tahunan harga yang diatur pemerintah turun menjadi 0,49 persen (yoy) pada Juni dari 0,93 persen (yoy) pada Mei 2021. Normalisasi harga, khususnya pada bahan makanan, menyebabkan penurunan harga komponen bergejolak. Di sisi lain, normalisasi tarif transportasi menurunkan inflasi barang yang diatur pemerintah.
 
"Secara keseluruhan, pada bulan ini, ketiga komponen inflasi, yaitu inflasi inti, komponen bergejolak, dan harga yang diatur pemerintah, mendorong deflasi bulanan sebesar 0,16 persen (mtm), inflasi bulanan terdalam sejak Agustus 2019," tutup Riefky.
 
 
(DEV)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif