Ilustrasi upah. Foto: Metrotvnews.com/Husen M
Ilustrasi upah. Foto: Metrotvnews.com/Husen M

Upah Perempuan Masih Lebih Rendah Dari Pria, Beban Domestik Jadi Sorotan

Annisa ayu artanti • 18 September 2026 22:13
Ringkasnya gini..
  • Rata-rata upah buruh perempuan Rp2,86 juta, sedangkan laki-laki Rp3,69 juta per bulan.
  • Perempuan menghabiskan 3 jam 14 menit per hari untuk pekerjaan domestik, lebih lama 41 menit dari laki-laki.
  • Sebanyak 34,9% perempuan sering atau sangat sering merasa kewalahan oleh tanggung jawab rumah tangga.
Jakarta: Kesenjangan upah antara perempuan dan laki-laki masih terlihat di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2026 mencatat rata-rata upah buruh laki-laki mencapai Rp3,69 juta per bulan, sedangkan perempuan Rp2,86 juta.

Artinya, terdapat selisih sekitar Rp830 ribu atau 22 persen secara agregat. Angka tersebut memang tidak secara langsung mengukur perbedaan upah untuk pekerjaan yang sama, tetapi menunjukkan masih adanya perbedaan hasil ekonomi antara pekerja perempuan dan laki-laki.

Di sisi lain, perempuan juga cenderung menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan pengasuhan. Temuan ini terungkap dalam kajian Populix bertajuk “Studi Lanjut Kesenjangan Upah: Beban Pengasuhan dan Kerja Domestik yang Luput dari Hitungan Ekonomi”.

Perempuan Bekerja Lebih Lama Jika Pekerjaan Domestik Dihitung

Policy & Social Researcher Populix Anisa Dwi Ariyani menjelaskan bahwa meskipun rerata perempuan menghabiskan 22 menit lebih sedikit waktu pada pekerjaan berbayar, bila diakumulasi dengan tanggung jawab domestik, setiap harinya mereka bekerja 19 menit lebih lama dibanding laki-laki. Porsi pekerjaan domestik perempuan mencapai 3 jam 14 menit per hari, 41 menit atau 27 persen lebih panjang dibanding laki-laki yang hanya berkontribusi sekitar 2 jam 33 menit. 

“Pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan masih dianggap sebagai unpaid labor (pekerjaan tanpa upah), dan luput dari hitungan ekonomi. Padahal bila dihitung nilai ekonomisnya, selisih waktu pekerjaan domestik dan pengasuhan anak yang dibebankan kepada perempuan setara 31 hari kerja dengan hitungan 8 jam kerja sehari,” kata Anisa dalam keterangan tertulis, Jumat, 18 September 2026.
   

Pengasuhan Anak Bukan Hanya Soal Waktu

Populix mengukur beban pengasuhan melalui Gendered Care Burden Index atau Indeks Beban Pengasuhan Berbasis Gender. Indeks tersebut mencakup beban waktu, beban keputusan dan mental, serta kekurangan dukungan pengasuhan.

Secara keseluruhan, rumah tangga urban mencatat skor beban pengasuhan sebesar 45,7 dari 100 dan termasuk kategori Menengah. Sebanyak 65,1 persen responden berada pada kategori beban menengah, sementara 3,4 persen masuk kategori tinggi.

Temuan studi menunjukkan bahwa sumber beban terbesar tidak terletak pada durasi. Alasan kekurangan dukungan pengasuhan mencatat skor tertinggi sebesar 57,5, disusul beban keputusan dan mental sebesar 54,6. Sedangkan beban waktu berada pada skor 24,9.

Temuan ini menggambarkan besarnya tantangan pengasuhan yang dihadapi keluarga urban, yang sayangnya belum bisa difasilitasi oleh layanan pengasuhan yang mumpuni. Tak hanya terbatas, biaya pengasuh anak berkualitas di Jakarta saat ini berkisar antara separuh hingga satu kali upah minimum provinsi. 

“Kombinasi antara keterbatasan layanan, biaya yang tinggi, dan keraguan terhadap kualitas menempatkan banyak keluarga dalam pilihan yang sulit. Akibatnya sebagian perempuan harus mengurangi waktu kerja, menolak peluang karier, atau mempertimbangkan berhenti bekerja karena tidak menemukan dukungan pengasuhan yang sesuai,” jelas Anisa.

Tanggung Jawab Domestik Tidak Terbatas Pekerjaan Fisik

Faktor lain yang paling jelas terlihat adalah beban keputusan dan mental. Perbedaan antara perempuan dan laki-laki cukup signifikan. Pada dimensi tersebut skor perempuan mencapai 59,7 dari 100, sedangkan laki-laki 48,5. Selisihnya mencapai 11,2 poin, atau sekitar 23 persen lebih banyak.

Hal ini terlihat dari 71,7 persen perempuan yang mengatur sedikitnya 60 persen keputusan pengeluaran harian rumah tangga. Tanggung jawab ini mencakup pekerjaan yang sering tidak terlihat, seperti memikirkan kebutuhan keluarga, mengatur jadwal anak, merencanakan belanja, dan memastikan tagihan terpenuhi. Beban tersebut juga tercermin dari tingkat kewalahan. 

“Pekerjaan domestik yang dilakukan perempuan tidak berhenti pada aktivitas fisik yang terlihat. Ada tanggung jawab untuk terus mengingat, merencanakan, dan mengambil keputusan bagi seluruh anggota keluarga. Beban ini tidak memiliki jam mulai dan selesai, tetapi dapat menguras energi serta ruang yang tersedia untuk pekerjaan berbayar,” tambah Anisa.

Menurut Anisa, isu kesetaraan upah perlu dibaca bersama dengan kesempatan perempuan untuk bertahan dan berkembang di dunia kerja. Studi ini memang tidak mengukur penyebab kesenjangan upah secara langsung, namun memperlihatkan bahwa perempuan masih mencurahkan lebih banyak waktu untuk pekerjaan domestik dan bertanggung jawab dalam pengelolaan rumah tangga yang lebih besar. Bahkan ketika mereka menjadi tulang punggung keluarga sekalipun.

"Temuan ini semakin menafikan nilai ekonomi hasil kerja perempuan yang masih dianggap lebih rendah dibandingkan laki-laki,” tutur Anisa.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan