Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.
Ilustrasi. Foto: MI/Susanto.

Indonesia Dinilai Beruntung Bisa Penuhi Kebutuhan Pangan

M Ilham Ramadhan • 06 Juli 2022 18:48
Bali: Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Fadjry Djufry mengungkapkan Indonesia cukup beruntung lantaran kebutuhan pangan dalam negeri masih terpenuhi. Bahan pangan pokok seperti beras justru mengalami surplus dan dapat diekspor ke negara lain.
 
"Untungnya Indonesia ini surplus padi. Kita harapkan memang sebagian kita ekspor untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga," ujarnya saat ditemui di Bali, Rabu, 6 Juli 2022.
 
Fadjry mengungkapkan, sejumlah negara saat ini mengalami krisis pangan akibat dinamika global. Tiap negara itu, sebutnya, memiliki strategi yang berbeda untuk menghadapi kondisi tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perubahan iklim juga dinilai sebagai salah satu sebab terjadinya krisis pangan. Akibat tak menentunya cuaca, sejumlah negara mengalami hambatan dalam produksi bahan pangan.
 
"Karena perubahan iklim, terjadi keterlambatan produksi, yang biasanya mereka tanam satu tahun bisa dua kali, jadi hanya satu kali, atau bahkan tidak sama sekali," kata Fadjry.
 
Hal itu kemudian mendorong sejumlah negara penghasil komoditas pangan tertentu menahan kegiatan ekspor. Ini dilakukan untuk mengamankan kebutuhan dalam negeri.
 
Kondisi tersebut, kata Fadjry, memperburuk status pangan dunia dan menimbulkan ancaman krisis. Guna menekan dampak krisis pangan yang berkepanjangan, maka diperlukan upaya bersama dan kolaborasi yang kuat.
 
Baca juga: Indef: Perlu Reformulasi Kemandirian Ekonomi di Tengah Dinamika Global

 
Karenanya, forum G20 kali ini juga memperkuat upaya kerja sama dan kolaborasi tersebut. Dalam Meeting of Agriculture Chief Scientist (MACS) yang menjadi bagian dari Agriculture Working Group (AWG) Presidensi G20 Indonesia misalnya, berfokus pada mempertajam kemampuan mengatasi ancaman krisis pangan.
 
"Jadi kalau bicara pangan, kita belajar dari negara tetangga yang sama agrarisnya. Kalau padi, ya yang cukup maju seperti Jepang, Korea, Tiongkok," imbuh Fadjry.
 
"Indonesia punya ekosistem yang sangat lengkap, dari lahan irigasi, lahan kering, lahan hujan, lahan rawa dan sebagainya. Itu yang tidak dimiliki beberapa negara. Jadi sebagian kita adopsi yang mereka lakukan, dan sebagian kita lakukan penyesuaian," tambahnya.

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif