Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. Foto; AFP.
Sekretaris Jenderal Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres. Foto; AFP.

Pertemuan Kepala Negara Champions GCRG Cari Jalan Keluar dari Krisis Rusia-Ukraina

Eko Nordiansyah • 22 Mei 2022 09:31
Jakarta: Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mewakili Presiden Joko Widodo selaku Sherpa Global Crisis Response Group (GCRG), menghadiri pertemuan pertama tingkat Kepala Negara/ Kepala Pemerintahan dari Pertemuan Pertama Champions Group of the GCRG on Food, Energy, and Finance.
 
Pertemuan dipimpin oleh Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, dan dihadiri oleh para Champions GCRG di antaranya Kanselir Federal Jerman Olaf Scholz, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, Perdana Menteri Barbados Mia Amor Mottley, Presiden Senegal Macky Sall, dan Sekretaris Jenderal United Nation Conference on Trade and Development (UNCTAD), Rebeca Grynspan. Presiden Indonesia dan Perdana Menteri Denmark diwakili oleh masing-masing Sherpa GCRG.
 
Para kepala negara/kepala pemerintahan tersebut dalam forum pertemuan Champions Group of the GCRG, membahas rekomendasi solusi untuk mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam mewujudkan ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Rusia-Ukraina.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


António Guterres dalam pesan pembukaan menekankan kompleksitas situasi yang dihadapi saat ini terkait kondisi pangan, energi dan keuangan dunia. Menurutnya, progres telah dilakukan untuk mengatasi krisis pangan dengan prioritas mengembalikan ekspor bahan pangan dari Ukraina dan Rusia dalam waktu dekat.
 
"Berbagai kemungkinan juga telah dikaji untuk solusi atas krisis Keuangan. PBB juga memerlukan masukan dan dukungan dari negara-negara dunia untuk mengatasi krisis Energi," kata Sekjen PBB Guterres dilansir dari keterangan di Jakarta, Sabtu, 21 Mei 2022.
 
Kanselir Jerman Olaf Scholz menyampaikan tiga pandangan utama dalam pertemuan tersebut. Pertama, Jerman telah mengambil peran sebagai salah satu donor terbesar di dunia dengan mengalokasikan 430 Juta Euro untuk mengatasi kebutuhan mendesak dari krisis pangan. Jerman juga akan menginvestasikan miliaran Euro dalam kegiatan terkait ketahanan Pangan, kerja sama pembangunan, dan bantuan kemanusiaan.
 
Kedua, pada area food security, bersama dengan World Bank, Jerman telah mengusulkan Global Alliance for Food Security untuk meningkatkan ketahanan Pangan global. Usulan tersebut telah disepakati oleh anggota G7 lainnya pada G7 Agriculture Minister Meeting.
 
Ketiga, Jerman menyayangkan terdapatnya disinformasi terkait efek dari Sanksi ekonomi. Rusia mengklaim penggunaan sanksi merupakan penyebab kenaikan harga dan kekurangan pangan. Sementara faktanya, saat ini 25 juta ton gandum Ukraina tidak dapat diekspor karena blokade Rusia terhadap pelabuhan Laut Hitam.
 
"Sanksi yang ada selama ini adalah sebagai reaksi atas pelanggaran terang-terangan Rusia terhadap Piagam PBB. Sanksi tidak menargetkan komoditas Pangan, termasuk ekspor Gandum Rusia. Tidak ada sanksi terhadap upaya Kemanusiaan. Perang harus segera dihentikan," tegas Kanselir Olaf Scholz.
 
Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina menegaskan dukungan Bangladesh untuk penghentian perang dan sanksi yang berdampak pada berbagai aspek di banyak negara di dunia. Untuk merespon kondisi saat ini, Hasina menyerukan agar solidaritas global dan lembaga pembiayaan internasional diperkuat.  
 
"Dukungan yang tepat sasaran perlu diberikan kepada negara yang rentan termasuk akses pasar, rantai pasok, logistik global dan akses pembiayaan.  Diperlukan pula dukungan teknologi dan penelitian untuk sektor pertanian," ujar dia.
 
Perdana Menteri Barbados Mia Mottley menyoroti, kelompok Small State Island Countries mengalami dampak yang luar biasa berat akibat perang Rusia-Ukraina. Permasalahan yang dihadapi antara lain berupa kenaikan harga-harga komoditas dan gangguan rantai suplai, sementara negara-negara ini sulit mengakses fasilitas pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan seperti DSSI dan the Common Framework.
 
"Barbados mengundang kontribusi aktif dan kepemimpinan politik dari G7 dan G20 untuk membantu penyelesaian permasalahan terutama dari sisi keuangan, mengingat sebagian besar negara dalam kelompok ini memiliki tingkat hutang yang tinggi," ungkapnya.
 
Dalam merespon beberapa pernyataan dari Champions GCRG tersebut, Sekretaris Jenderal UNCTAD Rebeca Grynspan menyambut baik pertukaran informasi yang dilakukan oleh para Champions dan berharap dapat menyuarakan aspirasi setiap negara yang terdampak krisis. Menurutnya, kerja sama yang baik diharapkan dapat terjalin dalam mengatasi krisis ini.
 
Sekretaris Jenderal PBB menutup pertemuan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh Champions GCRG. Presiden Senegal telah mewakili suara Afrika  dan dapat mempengaruhi keputusan penting yang akan diambil oleh berbagai lembaga, terutama lembaga multilateral yang akan memutuskan kebijakan finansial.
 
"Kita berharap akan ada sebanyak mungkin pengaruh positif dari forum ini, G7, G20 dan semua aktor kunci lainnya," kata Sekjen PBB mengakhiri pembicaraan dalam pertemuan.
 
Usai pertemuan ini, Sekjen PBB akan melakukan pembicaraan tersendiri dengan Presiden Joko Widodo pada Senin 23 Mei 2022, dan dengan Perdana Menteri Denmark pada Selasa 24 Mei 2022 minggu depan.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif