Ilustrasi petani menggunakan teknik produksi TSS - - Foto: dok Kementan
Ilustrasi petani menggunakan teknik produksi TSS - - Foto: dok Kementan

Kementan Efisiensi Pengadaan Benih Bawang Merah dengan Teknologi TSS

Ekonomi Kementerian Pertanian teknologi pertanian bawang
Ilham wibowo • 16 Oktober 2020 15:48
Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) mengembangkan teknologi true shallot seeds (TSS) dalam pengadaan benih bawang. Teknologi modern ini dinilai lebih efektif dan efisien untuk budidaya bawang merah.
 
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Fadjry Djufry mengatakan teknik produksi TSS dapat menekan biaya distribusi dan masa simpan benih bawang bisa lebih lama.
 
"Dataran tinggi suhu 16-18 derajat celcius merupakan lokasi yang sesuai untuk meningkatkan pembungaan bawang merah, oleh karena itu TSS sebagai sumber benih akan lebih optimal jika diproduksi di dataran tinggi," kata Fadjry melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 16 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fadjry menuturkan pemanfaatan benih TSS tersebut masih perlu disosialisasikan kepada petani. Karena itu, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) akan terus mendampingi dengan melakukan demplot-demplot percontohan.
 
"Sejauh ini masih banyak petani yang lebih senang menggunakan umbi sebagai bahan tanam atau sumber benih karena dianggap lebih mudah dan cepat. Padahal dengan metode TSS walaupun waktunya lebih lama atau kurang lebih tiga pekan dari metode umbi, produksinya cukup tinggi sehingga pasti lebih efisien dan menguntungkan," ujarnya.

 
Peneliti BPTP Jawa Timur (Jatim) Paulina Evy menambahkan Balitbangtan telah memiliki komponen teknologi produksi TSS atau biji botani sebagai alternatif yang potensial untuk memecahkan masalah perbenihan bawang. Penggunaan TSS, terang Evy, lebih efisien karena ukurannya hanya sekitar 0,05 gram sehingga kebutuhan benih untuk satu hektare sekitar 3-7 kg. Hal ini akan memudahkan pengangkutan dari satu kota ke kota lain.
 
"Penyediaan benihnya juga bisa dilakukan secara massal karena nisbah perbanyakan benih tinggi, dari 1 umbi menghasilkan 200-300 biji. Selain itu, masa simpan TSS terbilang lama, lebih dari satu tahun," tuturnya.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif