Ilustrasi kilang minyak  - - Foto: dok Pertamina
Ilustrasi kilang minyak - - Foto: dok Pertamina

Kontraktor Migas Minta Insentif Tambahan Demi Pacu Produksi

Antara • 26 Oktober 2021 13:25
Jakarta: Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman menyebut para kontraktor kerja sama minyak gas (migas) mengharapkan sejumlah insentif tambahan dalam mengeksplorasi dan memproduksi migas.
 
“Misalnya itu, semua yang Pertamina di Kalimantan Timur ini, semua minta insentif,” katanya, Selasa, 26 Oktober 2021.

Yani baru saja mengunjungi wilayah-wilayah kerja migas di Kalimantan Timur yang dikelola Pertamina Hulu Mahakam (PHM), Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), Pertamina Hulu Sangasanga (PHSS), dan Eni Muara Bakau.

Insentif yang diinginkan kontraktor migas:

  1. Keringanan pajak atau mengurangi jenis-jenis pajak yang harus dibayarkan.
  2. Penambahan bagian dari bagi hasil minyak atau gas.
  3. Kredit investasi sebagai tambahan modal bagi operator.
Untuk kontraktor yang bekerja dengan sistem gross split, kontraktor minta bagiannya ditambah. Menurut Yani, tanpa insentif tersebut, para kontraktor akan kesulitan melakukan pengembangan atas lapangan-lapangan yang mereka kelola, sementara mereka dituntut untuk terus meningkatkan produksi.
 
“Seperti saya diajak melihat lokasi bakal sumur. Tanpa insentif, tidak akan dikerjakan pengeboran di lokasi itu, karena hitung-hitungan bisnisnya kontraktor rugi atau pas-pasan. Dengan insentif, maka pekerjaan itu akan menarik,” terang dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Apalagi, katanya lagi, ladang-ladang minyak dan gas di Kalimantan Timur yang rata-rata sudah berusia 30-40 tahun memerlukan berbagai penanganan khusus, agar minyak dan gasnya masih bisa dipompa keluar.
 
Para kontraktor juga menyiasati dengan terus menambah sumur produksi untuk mendapatkan minyak dan gas lebih banyak. Kebijakan insentif ini juga semakin mendesak, karena banyak ditemukan cadangan-cadangan minyak baru.
 
Dalam hal penambahan cadangan ini, tercatat Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) menyumbang 149,5 juta barel. Lapangan yang sudah diproduksikan sejak zaman Belanda dan dikelola Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) memberi 273,8 juta barel, barulah kemudian tambahan dari Jindi South Jambi B Co sebesar 233,6 juta barel, dan dari Ophir Indonesia di Bangkanai-Lahai-Barito Utara-Kalimantan Tengah 150,9 juta barel.
 
Keseluruhan potensi tambahan cadangan migas yang membutuhkan insentif mencapai 938 juta barel. “Insentif diperlukan agar migas yang ada di lapangan-lapangan itu bisa diproduksikan secara ekonomis,” ucapnya.
 
Dampak positif yang dihasilkan dari insentif tersebut antara lain penambahan cadangan minyak dan gas sebesar 465,5 juta barel, dan penambahan penerimaan negara sekitar USD2,9 miliar atau sebesar Rp42 triliun.

 
Menurut Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara, insentif hulu migas mendorong penambahan investasi pengeboran dan fasilitas produksi sebesar USD3,5 miliar atau sekitar Rp50 triliun, yaitu meliputi pengeboran 88 sumur pengembangan, 15 sumur injeksi, 32 reaktivasi sumur, satu sumur step out dan konstruksi serta pemasangan fasilitas produksi.
 
“Insentif tersebut juga meningkatkan daya saing hulu migas Indonesia, dan pihak KKKS mendapatkan manfaat pendapatan sebesar USD1,5 miliar atau sekitar Rp21,75 triliun,” kata Lubiantara.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif