Industri ritel dalam negeri dinilai masih bisa bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi. Foto: MI/Yuniar
Industri ritel dalam negeri dinilai masih bisa bertumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi. Foto: MI/Yuniar

Kondisi Industri Ritel RI Masih Lebih Baik Ketimbang di AS

Ekonomi ritel
Ilham wibowo • 05 Agustus 2020 14:31
Jakarta: Industri ritel di Indonesia kondisinya dinilai masih lebih baik dibandingkan di Amerika Serikat (AS). Peluang pertumbuhan atau setidaknya bertahan bagi pelaku ritel di Tanah Air masih memungkinkan terjadi pada semester II-2020.
 
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan bahwa industri ritel di AS mengalami masa sulit lantaran perekonomian negaranya memasuki tahap resesi. Penanganan pandemi covid-19 oleh Pemerintah AS yang masih jauh dari harapan masyarakat juga jadi penentu kelangsungan usaha.
 
"Industri ritel kita masih lebih baik dibandingkan AS karena kita belum masuk ke gelombang kedua. Peningkatan covid-19 di Indonesia itu karena makin banyak masyarakat yang dites dan makin banyak laboratorium di RSUD yang kelihatannya meningkat," kata Roy kepada Medcom.id, Rabu, 5 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Optimisme masyarakat untuk tetap meningkatkan kebutuhan belanja perlu terus dipertahankan dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Menurut Roy, gelombang kedua pandemi covid-19 perlu dicegah oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia dengan menerapkan tata kenormalan baru yang lebih disiplin.
 
"Nah ini yang kita harus jaga, jangan sampai terjadi gelombang kedua. Harus lebih disiplin masyarakat, punya mindset mental jaga jarak dan pakai masker, menjaga kesehatan itu penting," ungkapnya.
 
Roy menuturkan bahwa, protokol kesehatan saat ini jadi tumpuan tumbuh atau tidaknya ekonomi lantaran keberadaan vaksin covid-19 masih dalam tahan uji klinis. Tes massal secara proaktif untuk mengetahui penyebaran covid-19 di lingkungan masyarakat juga sangat membantu.
 
"Kalau kita lihat di AS dan Singapura, sebetulnya mereka akan masuk ke gelombang kedua. Artinya penanggulangan jauh dibandingkan peningkatan kasus, selain faktor lain yaitu sumber daya resources mereka melemah dan kinerja daripada produktivitas negaranya juga terdampak," tuturnya.
 
Roy menambahkan bahwa Aprindo hingga saat ini tetap berpijak pada hasil survei proyeksi ekonomi terbaru Bank Indonesia. Indikator seperti indeks ekspektasi penjualan, indeks kepercayaan konsumen, dan indeks harga konsumen diproyeksikan berada pada angka di atas 100 pada Semester II.
 
"Di Indonesia belum resesi artinya bahwa ekspektasi yang disurvei oleh BI tentunya dengan satu catatan utama tidak terjadi gelombang kedua di Indonesia. Kalaupun sekarang ada peningkatan (kasus covid-19) itu sifatnya bukan karena gelombang kedua tapi karena semakin banyak masyarakat yang melakukan tes, kemudian semakin banyak RS daerah yang juga memiliki laboratorium," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif