perkebunan teh. Foto: MI.
perkebunan teh. Foto: MI.

Perlu Kebijakan Pemerintah untuk Bangkitkan Industri Teh Nasional

Antara • 03 Desember 2022 00:26
Jakarta: Dewan Teh Indonesia (DTI) menyatakan diperlukan intervensi kebijakan dari pemerintah untuk membangkitkan kembali industri teh nasional yang saat ini dalam kondisi melemah.
 
Ketua Umum DTI Rachmad Gunadi  mengatakan industri teh nasional saat ini mulai kehilangan keunggulannya dimana produk teh ekspor Indonesia sedang menghadapi penurunan pangsa pasar di pasar teh dunia akibat melemahnya daya saing kompetitifnya.
 
baca juga: Studi: Konsumsi Jenis Teh Ini dapat Mengurangi Risiko Diabetes Tipe 2

Sementara itu, selanjutnya, secara global terjadi peningkatan tren konsumsi teh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Global Tea Revenue mengalami peningkatan sebesar 6,79 persen dengan nilai bisnis setara USD247,2 miliar.
 
Secara proyeksi permintaan pasar teh dunia hingga 2027 juga bergerak menuju pertumbuhan permintaan teh hijau dan fruit/herbal tea, sedangkan teh hitam tipe broken mulai menurun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Melihat kompleksnya permasalahan industri teh nasional, maka solusi yang dibutuhkan sudah 'beyond of capacity' para pelaku industri teh. Pemecahan berbagai permasalahan industri teh Indonesia membutuhkan intervensi kebijakan secara langsung oleh pemerintah dalam semua elemen dan kelembagaan industri ini untuk mereformasi Industri Teh Indonesia," ujarnya saat menyampaikan Refleksi Teh Indonesia dikutip dari Antara, Jumat, 2 Desember 2022.
 
Gunadi memaparkan komoditas teh termasuk komoditas sub sektor unggulan perkebunan nasional yang hingga saat ini turut berkontribusi dalam perekonomian nasional diantaranya sebagai penyumbang devisa negara yang ditandai dengan kinerja ekspor impor sebesar USD140 juta pada 2021 dan perannya dalam pengembangan UMKM nasional.
 
Industri perkebunan teh mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 200 ribu pekerja dan menghidupi keluarga lebih dari satu juta jiwa.
 
"Namun secara nasional, kondisi bisnis teh saat ini, baik di hulu dan perdagangan sangat memprihatinkan. Dalam lima tahun terakhir produksi, dan luas areal teh mengalami penurunan, diikuti penurunan produktivitas," katanya.
 
Tercatat pada 2020, Indonesia memproduksi sebesar 126 ribu ton teh kering dari 113 ribu hektare (ha) lahan teh. Di satu sisi nilai ekspor dan impor teh Indonesia juga patut untuk diperhitungkan. Tercatat pada 2020 Indonesia memiliki nilai ekspor teh setara dengan USD96,3 juta atau sebesar 45,3 ribu ton dengan pasar utama negara Eropa.
 
Namun di sisi lain, lanjut Gunadi, Indonesia dibanjiri oleh produk teh Vietnam, nilai impor total teh Indonesia tercatat sebesar USD28,9 juta dengan volume 14,9 ribu ton.
 
"Penyelamatan industri teh Indonesia sangatlah penting mengingat nilai ekspor yang cukup besar dan menyumbang devisa bagi negara," katanya.
 
Direktur Eksekutif DTI Harry Hendrarto mengatakan, berbagai strategi pemecahan masalah industri teh nasional sudah dilakukan sejak 2013 hingga saat ini.
 
Salah satunya program Gerakan Penyelamatan Agribisnis Teh Nasional (GPATN ) yang bertujuan membangun kembali agribisnis teh agar bisa memberikan kesejahteraan bagi para pelakunya, dan dipertajam dalam penyusunan Road Map Agribisnis Teh hingga 2045 pada 2015.
 
“Namun program ini belum berhasil dan memerlukan evaluasi pada realisasi teknis di setiap value chain teh nasional,” ujarnya.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif