Ilustrasi petani garam. Foto: dok MI/Ghozi.
Ilustrasi petani garam. Foto: dok MI/Ghozi.

Soal Impor Garam, Ada Perang Harga dengan Lokal

Insi Nantika Jelita • 16 Maret 2021 13:39
Jakarta: Juru Bicara Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Wahyu Muryadi angkat bicara soal alasan pemerintah masih memutuskan akan mengimpor garam di tahun ini. Dia mengatakan, salah satu masalahnya ialah harga impor yang dikatakan jauh lebih murah.
 
Diketahui, garam yang diimpor Indonesia mayoritas berasal dari Australia dan India. Pada 2019 misalnya, dari total impor 2,69 juta ton, sebanyak 72 persen berasal dari Australia dan 27,7 persen berasal dari India.
 
"Masalahnya harga impor jauh lebih murah dan mendapatkannya dengan cara mudah termasuk dari India, yang saat kami tinjau di Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu lalu, 13 Maret 2021, pasar garam di sana dihajar oleh pihak yang berani perang harga lebih rendah dari garam lokal," jelas Wahyu kepada Media Indonesia, Senin, 15 Maret 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Wahyu tidak merinci berapa harga garam yang didapat dari impor tersebut. Namun, katanya, saat ini petambak garam mengantongi Rp300 hingga Rp400 per kilogram saja.
 
"Mereka merugi karena biaya produksinya (dalam negeri) lebih tinggi," ucapnya.
 
Dia menambahkan, pada 2016 pemerintah sempat setop impor garam dan bisa menaikkan harga jual garam menjadi Rp1.800 per kilogram. Namun, seiring waktu Indonesi masih terus diguyur impor garam.
 
"Kita pernah setop impor garam pada 2016 dan bisa. Bagi mereka kalau harganya Rp1.000 saja sudah gembira. Makanya, kunci utama adalah kontrol importasi, supaya enggak meluber, merembes sampai ke pasar domestik rakyat," tegas Wahyu.
 
Wahyu juga mengatakan, kini importasi garam bukan lagi menjadi wewenang KKP, melainkan di Kementerian Perindustrian. Adapun persetujuan untuk mengimpor garam di tahu ini diputuskan dalam rapat koordinasi Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto beberapa waktu lalu.
 
"KKP akan berfokus pada meningkatkan kualitas dan nilai tambah garam rakyat dari aspek hilirisasinya, misalnya berikan bantuan pendampingan riset dan teknologi agar kualitas garamnya bisa menjawab kebutuhan industri," pungkas Wahyu.
 
Sebelumnya pada Desember 2020, Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan, berdasarkan hitungan dirinya, harga garam yang tiba di pelabuhan dari India sekitar Rp401 per kg. Sementara untuk garam dari Australia sekitar Rp551 per kg. Lalu, dia menyebut, harga garam lokal dinilai fluktuatif berkisar Rp200 per kg hingga lebih dari Rp1.000 per kg tergantung pada musim.
 
Menurutnya, dengan perbedaan tersebut membuat garam impor dikatakan banyak merembes ke pasar lokal. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat, Indonesia telah mengimpor garam sebanyak 279,7 ribu ton selama Agustus 2020 dengan nilai USD10,2 juta. Angka ini naik signifikan dibanding bulan sebulannya, yakni pada Juli 2020 mengimpor 143,5 ribu ton dengan nilai USD5 juta.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif