Ilustrasi tambang batu bara. Foto: AFP
Ilustrasi tambang batu bara. Foto: AFP

Pemerintah Beri Hadiah bagi Perusahaan Batu Bara yang Terapkan Hilirisasi

Ekonomi batu bara Kementerian ESDM Hilirisasi Industri
Suci Sedya Utami • 13 Oktober 2020 21:25
Jakarta: Pemerintah mendorong hilirisasi komoditas pertambangan, salah satunya batu bara. Bahkan untuk menggiatkan hilirisasi, pemerintah memberikan hadiah bagi perusahaan batu bara yang menerapkannya.
 
Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sujatmiko mengatakan pemerintah memberikan reward berupa insentif, baik fiskal maupun nonfiskal.
 
Ia bilang untuk nonfiskal, pemerintah memberikan perpanjangan izin bagi pemegang izin usaha pertambangan (IUP) maupun IUP khusus (IUPK) sesuai dengan usia cadangan yang dimiliki di lapangan tambangnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nonfiskal misalnya kalau pemegang IUP batu bara mambangun hilirisasi maka izin tambangnya bisa diperpanjang sampai sesuai umur cadangannya. Artinya berapa dia mampu mensuplai pabrik hilirisasinya, itulah izin yang usaha pertambangan yang diberikan," kata Sujatmiko dalam peluncuran laporan seri studi peta jalan transisi energi Indonesia secara daring, Selasa, 13 Oktober 2020.
 
Sementara untuk fiskal, insentif yang diberikan berupa pembebasan royalti. Hal ini diatur dalam UU Cipta Kerja yang mengubah pasal 128A ayat 2 dalam UU Minerba sehingga berbunyi 'pemberian perlakuan tertentu terhadap kewajiban penerimaan negara untuk kegiatan peningkatan nilai tambah batu bara dapat berupa pengenaan royalti sebesar nol persen'.
 
Dirinya mengatakan hilirisasi saat ini masih membutuhkan investasi yang tinggi, terutama dalam hal penyediaan teknologi. Sehingga, lanjut Sujatmiko, perlu diberikan insentif untuk membuat keekonomiannya masuk dan diterima oleh pasar.
 
"Yang fiskal royalti bisa sampai nol persen hingga meningkatkan keekonomian," tutur dia.
 
Lebih lanjut, dirinya menambahakn hilirisasi diperlukan agar pemanfaatan batu bara tetap bisa memberikan nilai tambah di tengah transisi energi ke yang lebih bersih.
 
"Selama kita bisa kembangkan dan mengolah jadi energi yang memenuhi aspek sustainable development clean and green, why not?" jelas Sujatmiko.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif