Ilustrasi. Foto: AFP
Ilustrasi. Foto: AFP

Kementan Siapkan 500 Ribu Hektare untuk Swasembada Kedelai

Ekonomi kedelai Kementerian Pertanian
M. Ilham Ramadhan Avisena • 12 Januari 2021 21:55
Jakarta: Direktur Aneka Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian Amirudin Pohan mengatakan pihaknya sedang menyiapkan 500 ribu hektare lahan untuk swasembada kedelai.
 
"500 ribu hektare dengan prediksi produksi mencapai 600 ribu-700 ribu ton kedelai secara bertahap. Namun, untuk langkah 100 hari pertama adalah menyiapkan benih untuk luas 37 ribu hektare untuk ditanam di lahan 500 ribu hektare tersebut," kata Amirudin dikutip dari Mediaindonesia.com, Selasa, 12 Januari 2021.
 
Rencananya penanaman kedelai lokal tersebut akan dilakukan pada April hingga Juni 2021. Untuk lokasi tanam disebar di 21 provinsi namun sebagian besar berada di Pulau Jawa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Nanti secara bertahap akan dikembangkan sampai bisa 1,3 juta hektare dalam kurun waktu 2-3 tahun ke depan dengan catatan harga kedelai bisa Rp8.500/kg," ujar Amirudin.
 
Sebelumnya, harga kedelai tiba-tiba melonjak menjadi Rp9.100/kg. Kenaikan tersebut sangat dirasakan masyarakat terutama perajin tahu tempe. Presiden Joko Widodo pun memerintahkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mencari lahan yang luas untuk dijadikan pusat lokasi pengembangan kedelai. Presiden ingin persoalan yang terkait dengan tahu-tempe tak kembali terulang.
 
"Memang betul arahan presiden untuk bisa menyiapkan kedelai lokal secara bertahap menggantikan kedelai impor yang tidak diatur tata niaga impornya. Selama ini kedelai tidak dihargai dengan harga yang memuntungkan petani sehingga petani tidak berminat tanam kedelai dan beralih ke lain," ungkap Amirudin.
 
Menurutnya, instruksi presiden bisa menjadi momen yang baik untuk petani Tanah Air. Untuk itu Kementan membuat program prioritas untuk mendorong petani menanam kedelai seluas 500 ribu hektare.
 
"Untuk saat ini yang paling mendesak adalah bisa meyakinkan petani agar mau menanam kedelai lagi seperti era tahun 90an," pungkasnya.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif