Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.

Jangan Khawatir, Daging Hewan Terpapar PMK Aman Dikonsumsi!

Ekonomi Daging Sapi Kementerian Pertanian Hewan Ternak Syahrul Yasin Limpo Penyakit Mulut dan Kuku
Media Indonesia • 12 Mei 2022 17:41
Jakarta: Pakar virus Indro Cahyono menegaskan daging dari hewan yang terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) masih aman dikonsumsi manusia. Masalah utama dari penyakit ini adalah cepatnya penularan dari hewan satu ke hewan yang lainnya, sehingga saat ini yang difokuskan adalah pencegahan penyebaran penyakit tersebut agar tidak lebih meluas dan menjangkiti hewan ternak lainnya.
 
"Seratus persen dari bahan baku manapun, termasuk dari mulutnya sekali pun yang sakit itu masih bisa dikonsumsi manusia. Tidak menular. Enggak masalah, kakinya yang sakit mau dimasak sekalipun enggak masalah. Masalah utamanya itu bukan dia menular ke manusia atau tidak, cuma nular ke hewan itu cepat," kata Indro kepada Media Indonesia, Kamis, 12 Mei 2022.
 
Hal serupa juga disampaikan Dokter Hewan Arief Wicaksono. Ia mengungkapkan agar masyarakat lebih memperhatikan proses penanganan produk yang berbahan dasar daging sapi atau sejenisnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Aman dikonsumsi. Yang penting diperhatikan proses penanganan produknya saja. Supaya tidak menjadi media pembawa atau sumber kontaminasi virus di lingkungan," kata dia.
 
PMK atau dikenal sebagai Food and Mouth Disease (FMD) adalah penyakit hewan menular akut. Jenis hewan yang rentan terjangkit seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan hewan sejenis ruminansia lainnya.
 
Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menemukan kasus wabah PMK yang menyerang ribuan hewan ternak di Jawa Timur seperti Gresik, Sidoarjo, Lamongan, dan Mojokerto. Diketahui saat ini penyakit PMK juga telah menyebar di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
 
Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan saat ini yang perlu dilakukan adalah memastikan penyakit PMK ini dapat ditangani dengan maksimal, seperti mendistribusikan obat, penyuntikan vitamin dan pemberian antibiotik.
 
"Intinya yang terkena harus diberikan obat dan yang tidak terkena harus dinaikkan imunnya," tutur Syahrul.
(Dinda Sabrina)

 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif