Ilustrasi operasi pasar minyak goreng. Foto: dok MI/Galih.
Ilustrasi operasi pasar minyak goreng. Foto: dok MI/Galih.

Tak seperti Dugaan KPPU, Gapki: Bukan Praktik Kartel Minyak Goreng

Despian Nurhidayat • 20 Februari 2022 12:48
Jakarta: Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) meyakini persoalan minyak goreng bukan disebabkan praktik kartel, seperti dugaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).
 
Menurut Gapki, kelangkaan stok dan lonjakan harga minyak goreng disebabkan fenomena panic buying. Sehingga, ketika ada stok minyak goreng, warga langsung menyerbu barang pokok tersebut.
 
"Kalau saya meyakini tidak ada masalah kartel, tetapi lebih baik KPPU yang membuktikan. Seharusnya masalah minyak goreng sudah teratasi, hanya masih ada panic buying," ungkap Sekretaris Jenderal Gapki Eddy Martono kepada Media Indonesia, dilansir Minggu, 20 Februari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, Eddy juga menanggapi terkait kabar produsen minyak goreng yang menimbun stok. Dugaannya, produsen enggan mengikuti aturan satu harga dari pemerintah. Menurutnya, penimbunan itu tidak akan menguntungkan produsen minyak. Pun, langkah produsen untuk menimbun stok minyak goreng juga dinilai tidak masuk akal.
 
"Barusan saya lihat kabar di NTT, ada pedagang menimbun minyak goreng. Ternyata itu stok lama dan harga lama. Tadi diwawancara, kalau dia jual Rp14 ribu rugi, akhirnya dia tidak jual. Kalau produsen menimbun minyak goreng untungnya apa? Harga sudah dipatok pemerintah, malah dia semakin rugi," tutur Eddy.
 
Eddy menyarankan pemerintah untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sehingga, tidak terjadi panic buying yang menyebabkan terjadinya kelangkaan stok minyak goreng. "Harusnya ada sosialisasi kepada masyarakat, tidak usah panik, karena seharusnya stok cukup," pungkasnya.
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif