Foto: Grafis Medcom.id
Foto: Grafis Medcom.id

Balitbangtan Kementan Terus Berinovasi Cari Vaksin Covid-19

Ilham wibowo • 08 Juli 2020 11:14
Jakarta: Balai Besar Penelitian Veteriner (BB Litvet) Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) dihuni para peneliti virus atau virologi yang ahli untuk menghadapi wabah yang muncul dari hewan atau tumbuhan. Potensi ini kemudian diterjunkan untuk membantu percepatan penanganan pandemi covid-19 di Tanah Air.
 
Kepala BB Litvet Indi Dharmayanti mengatakan inovasi antivirus berbasis eucalyptus hanya satu dari sekian banyak produk hasil penelitian para ahli virus di Indonesia. Kehadiran purwarupa kalung aromaterapi eucalyptus pun bukan akhir untuk tetap meneliti dan memunculkan obat atau vaksin yang paling mujarab terhadap virus covid-19.
 
"Menghadapi penyakit ini harus bersama-sama. Kita tidak bisa mengatasi penyakit hanya dari satu sisi saja," kata Indi, melalui keterangan tertulisnya, Rabu, 8 Juli 2020.

Menurut Indi hasil penelitian bahan aktif pada minyak eucalyptus sebagai kandidat antivirus pada awalnya mendapat dukungan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo agar manfaatnya bisa diterima masyarakat lebih cepat. Hal ini mengingat potensi dan keahlian para peneliti BB Litvet sebagai anak bangsa yang perlu turut berkontribusi mengatasi pandemi.
 
"Sesuai arahan Pak Menteri Pertanian, penelitian itu tidak boleh berakhir," ujarnya.
 
Selain BB Litvet, riset potensi eucalyptus di Balitbangtan juga melibatkan kolaborasi Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, dan Balai Besar Pasca Panen. Satu dari ratusan tumbuhan jenis eucalyptus pun terpilih sebagai bahan utama penelitian lantaran kandungannya paling efektif dan didasari ketersediaan bahan baku yang melimpah di dalam negeri.
 
"Tentu kami sangat kompeten meneliti tanaman obat, meneliti virus, bahkan mengemas produk usai panen petani menjadi produk yang bernilai tinggi untuk masyarakat," ungkapnya.
 
Indi memaparkan bahwa BB Litvet memiliki sejarah panjang dalam melakukan penelitian dan pengkajian terhadap berbagai jenis penyakit hewan dan zoonosis, termasuk virus korona. Koleksi virus tersebut disimpan dalam Balitvet Culture Collection.
 
"Kami punya koleksi virus yang sangat lengkap dari zaman Belanda hingga sekarang, mulai dari patogen hingga non-patogen. Kami punya koleksi virus korona, bakteri antraks, hingga virus influenza dan semua terdokumentasi dengan baik," papar Indi.
 
Selain ditunjang kehadiran para ahli virus, Balitbangtan juga memiliki sarana laboratorium yang memadai. Fasilitas ini mampu difungsikan untuk meneliti virus yang sangat mematikan. BB Litvet dikenal sejak lama sebagai pusat penelitian penyakit hewan dengan reputasi internasional dan bekerjasama dalam pencegahan bioterorisme.
 
"Kami punya fasilitas sangat baik, seperti laboratorium Biosafety Level (BSL) 3 sebagai laboratorium dengan tingkat keamanan tertinggi yang ada di Indonesia. Kami juga memiliki SDM yang telah tersertifikasi secara internasional," tegas Indi.
 
Indi menambahkan, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pernah memberikan penghargaan terhadap BB Litvet atas penelitiannya tentang H5N1 atau virus flu burung pada 2006. Penelitian tersebut berhasil menemukan kandidat vaksin flu burung yang diproduksi hingga sekarang.
 
"Banyak penyakit yang bersumber awalnya dari hewan, dan covid-19 salah satu yang diduga berawal dari hewan ke manusia. Kami sudah punya juga sampelnya, namun karena virus ini masih baru, tentu masih perlu dipelajari karakteristiknya. Kami yakin riset kolaborasi peneliti kesehatan hewan dan manusia akan memperkuat peran eucalyptus ini," ungkap Indi.
 
Namun demikian, Indi mengaku pihaknya sangat terbuka dengan lembaga-lembaga lain yang memiliki kompetensi untuk melakukan penelitian lanjutan yang saling terkait sesuai dengan konsep one health, kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Upaya kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu pun perlu bekerja secara lokal, nasional dan global.
 
"Beberapa lembaga sudah terbuka untuk melakukan kerja sama untuk uji klinis, seperti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin dan FK Universitas Indonesia. Selain itu juga sudah ada dukungan dari PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI)," tutupnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan