Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/SUMARYANTO

Indeks Manufaktur Indonesia Tertinggi ke-2 di ASEAN

Angga Bratadharma • 26 September 2020 12:29
Jakarta: Pandemi covid-19 sempat meremukkan dunia industri Indonesia, tak terkecuali industri manufaktur. Namun, tiga bulan terakhir kegiatan manufaktur perlahan pulih, tercermin dari membaiknya Purchasing Managers Index (PMI) atau sederhananya disebut sebagai indeks manufaktur.
 
Mengutip riset Lifepal, Sabtu, 26 September 2020, menganalisis bagaimana pemulihan PMI Indonesia apabila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, Lifepal juga menganalisis bagaimana PMI-BI, indikator serupa yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, memengaruhi fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.
 
PMI merupakan suatu indikator utama bagi kegiatan perekonomian suatu negara yang dibuat melalui suatu tahapan survei terhadap para purchasing manager di berbagai sektor bisnis yang ada. Angka PMI ini mengindikasikan seberapa optimis pelaku sektor bisnis terhadap kondisi perekonomian ke depan.
 
Data PMI didasarkan pada survei bulanan dari perusahaan yang dipilih secara hati-hati. Data ini menyajikan indikasi lanjutan tentang apa yang sedang terjadi pada ekonomi sektor swasta dengan melacak variabel seperti, output, permintaan baru, tingkat stok, ketenagakerjaan, dan harga lintas sektor pabrik, konstruksi, eceran, dan jasa.
 
Jika PMI dirilis di angka >50 maka sektor bisnis mengalami perkembangan. Semakin tinggi angka indeks PMI maka semakin besar pula perkembangan yang dialami. Jika PMI dirilis dengan angka =50, maka sektor bisnis tersebut mengalami stagnasi (tidak ada perkembangan). Bila PMI dirilis di angka <50 maka sektor bisnis mengalami penurunan (kontraksi).
 
Adapun pandemi covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial hingga lockdown di negara-negara ASEAN memengaruhi pergerakan PMI. Terlihat ketika pandemi yang booming di Maret disusul lockdown yang diberlakukan di banyak negara ASEAN hingga PSBB di Indonesia mengakibatkan PMI mulai turun di Maret. Tiap negara mencapai PMI terendah pada April.

Selepas April, PMI semua negara kembali pulih. Hingga Agustus 2020, Myanmar adalah yang pemulihannya paling tinggi, disusul Indonesia di urutan ke-2. Untuk Vietnam, yang sempat nyaris tak tersentuh covid-19 akhirnya baru memberlakukan lockdown pada akhir Juli 2020. Hingga Agustus, PMI Vietnam adalah yang terendah di antara tujuh negara ASEAN.
 
Berada di peringkat kedua pada Agustus 2020, PMI Indonesia berada pada level 50,80 persen yang artinya jika PMI dirilis dengan angka >50 maka sektor bisnis tersebut mengalami perkembangan (ekspansi).
 
Adapun Indonesia memiliki indeks serupa yang dinamakan Prompt Manufacturing Index yang disingkat menjadi PMI-BI, lantaran indeks manufaktur ini dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Fungsinya pun serupa dengan PMI dengan PMI-BI memperlihatkan gambaran umum mengenai kondisi sektor industri pengolahan saat ini dan perkiraan triwulan mendatang.
 
PMI-BI merupakan indikator ekonomi yang mencerminkan keyakinan para manajer bisnis di sektor manufaktur. PMI-BI merupakan indeks komposit yang diperoleh dari lima indeks yaitu volume pesanan barang input, volume produksi (output), ketenagakerjaan, waktu pengiriman dari pemasok, dan inventori.
 
Pembacaan nilai PMI bisa dikatakan sederhana. Nilai yang dijadikan acuan pada indeks ini adalah 50 persen. Contohnya jika nilai PMI Indonesia di atas 50 maka dapat dikatakan bahwa sektor manufaktur indonesia sedang mengalami ekspansi atau pertumbuhan.
 
"Sebaliknya, jika nilai PMI Indonesia di bawah 50 maka dapat dikatakan bahwa sektor manufaktur di indonesia sedang mengalami kontraksi atau perlambatan," kata riset Lifepal.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan