Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira - - Foto: MI/ Permana
Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira - - Foto: MI/ Permana

BLT Rp600 Ribu/Bulan Tak Cukup, Masyarakat Menengah Bawah Paling Terdampak Resesi

Ekonomi kelas menengah Bantuan Langsung Tunai pandemi covid-19 Resesi Ancam Indonesia
Antara • 17 Oktober 2020 14:30
Jakarta: Bantuan langsung tunai (BLT) sebesar Rp600 ribu per orang yang diberikan pemerintah kepada masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 dinilai tidak mencukupi. Sebab, banyak masyarakat menengah ke bawah yang rentan miskin dan paling terdampak oleh resesi ekonomi.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengusulkan agar pemerintah menaikkan bantuan langsung tunai (BLT) dari sebesar Rp600 ribu per orang, menjadi Rp1,2 juta per orang per bulan.
 
“Saat ini belum mencukupi karena BLT misalnya hanya Rp600 ribu per orang per bulan. Idealnya Rp1,2 juta per bulan per orang dengan asumsi setiap orang menanggung tiga anggota keluarga,” ujar Bhima dikutip dariAntara, Sabtu, 17 Oktober 2020.
 
Bhima menjelaskan masyarakat yang termasuk dalam kelompok 40 persen terbawah akan sangat terdampak resesi. Kelompok ini kebanyakan tidak memiliki tabungan padahal saat resesi masyarakat diimbau untuk memiliki tabungan dan dana darurat yang cukup.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kelompok ini bahkan tidak memiliki tabungan karena pendapatan yang didapat sudah habis untuk memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Bhima.
 
Pemandangan kontras justru terjadi pada kelompok menengah atas. Kelompok ini saat pandemi dan resesi justru menimbun dananya di produk tabungan yang mudah dicairkan, atau produk investasi surat berharga pemerintah untuk memperoleh keuntungan jangka panjang. Dalam jangka pendek, mereka cenderung melipatgandakan dana darurat untuk mengantisipasi jika resesi ekonomi terjadi secara berkepanjangan.
 
“Sementara itu kelas menengah atas uangnya masih ada tapi disimpan di bank atau di surat utang pemerintah,” ujar Bhima.
 
Jika melihat data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), memang terdapat pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan yang cukup signifikan terutama untuk tabungan dengan nominal jumbo.
 
Merujuk data terakhir di Agustus 2020, dana pihak ketiga (DPK) perbankan per Agustus 2020 tumbuh sebesar 11,64 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan itu melanjutkan tren menumpuknya dana di perbankan pada Juli 2020, ketika pertumbuhan DPK mencapai 8,53 persen (yoy).
 
Melihat lebih dalam lagi, pertumbuhan tertinggi DPK ternyata terjadi pada kelompok simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar yang bertumbuh 15,2 persen (yoy) menjadi Rp3.186 triliun. Kemudian kelompok Rp500 juta hingga Rp1 miliar, bertumbuh 10,1 persen (yoy), dan selanjutnya kelompok simpanan Rp200 juta hingga Rp500 juta yang sebesar 9,5 persen (yoy).

 
Pemerintah sudah memberi sinyal bahwa Indonesia memasuki fase resesi di kuartal III (Juli-September) 2020. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020 berada di kisaran minus satu persen sampai minus 2,9 persen, atau melanjutkan kontraksi ekonomi di kuartal II 2020 yang minus 5,23 persen.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif