Menperin tinjau progres perluasan produksi TPPI Tuban. FOTO: Kemenperin
Menperin tinjau progres perluasan produksi TPPI Tuban. FOTO: Kemenperin

Menperin Tinjau Progres Perluasan Produksi TPPI Tuban

Ekonomi tuban petro / tppi Kementerian Perindustrian kilang tuban
Ilham wibowo • 09 Oktober 2020 09:19
Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang optimistis program substitusi impor dan penguatan struktur di sektor industri petrokimia bisa cepat diimplementasikan. Proyek revamping atau perluasan produksi PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, tetap berjalan.
 
"Kami mendukung proyek perluasan dan penambahan lini produksi yang tengah dijalankan TPPI saat ini. Tentunya diharapkan dapat menopang pembangunan sektor industri petrokimia nasional yang berdaya saing dan berkesinambungan," kata Agus, melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 9 Oktober 2020.
 
Menperin menjelaskan pembangunan TPPI bakal berperan penting menjadi basis industri petrokimia yang memasok bahan baku olefin dan aromatik. Rencana TPPI, kata Agus, sejalan dengan program substitusi impor yang dicanangkan pemerintah, sehingga secara signifikan dapat mengurangi impor bahan baku kimia dan defisit transaksi berjalan Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masih terdapat kekosongan pada pohon industri, baik di hulu maupun industri antara, dan TPPI sudah membaca peluang tersebut. Sehingga pemerintah akan terus mendukung upaya TPPI dalam menciptakan kemandirian industri kimia nasional,” imbuhnya.
 
Saat ini, TPPI sedang menjalankan proyek revamping platforming dan aromatik untuk meningkatkan kapasitas platforming unit dari 50 ribu barel per hari menjadi 55 ribu barel per hari. Kemudian kapasitas produksi paraxylene 600 ribu ton per tahun menjadi 780 ribu ton per tahun dengan biaya pembangunan sebesar USD180 juta.
 
Pekerjaan Basic Engineering Design Package (BEDP) yang dikerjakan oleh UOP sejak Maret 2020 telah selesai pada 25 September 2020. Sedangkan, pembangunan lima tangki secara keseluruhan bakal dikebut hingga pertengahan Desember 2021.
 
Terkait dengan dukungan TPPI untuk mengurangi produk impor paraxylene, perusahaan sudah mulai mengoperasikan unit produksi paraxylene sejak Agustus 2020 secara dual mode yang menghasilkan produk petrokimia dan produk BBM dan akan ditingkatkan secara bertahap.
 
Adapun hingga saat ini kebutuhan domestik paraxylene mencapai satu juta ton per tahun. Pemasok dari dalam negeri selain TPPI yakni Kilang RU IV Pertamina yang mempunyai kapasitas produksi sekitar 200 ribu ton per tahun.
 
Pada 2021, TPPI akan memproduksi sejumlah 280 ribu ton per tahun paraxylene selain juga memproduksi bahan bakar Pertamax. Bersama dengan produksi paraxylene Pertamina sebesar 220 ribu ton per tahun, total produksi paraxylene dalam negeri menjadi 500 ribu ton per tahun, atau dapat mengurangi impor hingga 50 persen.
 
Kemudian, pada 2022 dengan selesainya proyek revamping tersebut TPPI akan meningkatkan produksi paraxylene menjadi 780 ribu ton per tahun. Tambahan produksi tersebut dapat memenuhi seluruh kebutuhan paraxylene dalam negeri bersama-sama dengan Pertamina.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif