Tiga entitas bisnis hilir, yakni PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), serta segmen bisnis PT Pertamina International Shipping (PIS) resmi digabungkan. Ketiganya dilebur menjadi satu subholding downstream, dengan PPN ditetapkan sebagai entitas penerima penggabungan.
Integrasi hilir untuk rantai pasok energi yang lebih kuat
Penggabungan ini dilakukan melalui proses evaluasi mendalam, termasuk benchmarking terhadap perusahaan minyak dan gas sejenis di tingkat global. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem bisnis hilir yang terintegrasi dan berkesinambungan.Melalui integrasi tersebut, proses pengolahan bahan bakar di kilang, distribusi energi ke seluruh wilayah Indonesia, hingga pemasaran produk dapat berjalan dalam satu sistem yang saling terhubung.
Dengan demikian, rantai pasok energi diharapkan menjadi lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan nasional.
| Baca juga: Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru di Seluruh Indonesia |
Menjamin ketersediaan hingga harga energi
Integrasi bisnis hilir ini juga dirancang untuk memperkuat lima aspek utama penyediaan energi. Pertamina menargetkan ketersediaan energi (Availability) yang lebih andal, aksesibilitas (Accessibility) yang menjangkau seluruh pelosok negeri, serta produk energi yang sesuai kebutuhan masyarakat dan lingkungan (Acceptability).Selain itu, harga energi diharapkan tetap kompetitif (Affordability), sekaligus mendorong percepatan transisi energi melalui pengembangan portofolio bahan bakar rendah karbon sebagai bagian dari agenda keberlanjutan (Sustainability).
Pertamina ingin lebih lincah dan kompetitif
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengungkapkan integrasi ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat kepastian pasokan energi nasional, serta meningkatkan daya saing Perusahaan.Dengan sistem yang terintegrasi, koordinasi antarfungsi berjalan lebih cepat, pengambilan keputusan lebih efektif, dan investasi yang lebih optimal.
“Di tengah perubahan geopolitik, tuntutan transisi energi, dan persaingan global yang semakin ketat. Indonesia membutuhkan Pertamina yang lincah, kuat, dan terintegrasi. Ketika kilang, distribusi, dan logistik serta pemasaran bekerja sebagai satu sistem, kita dapat menghilangkan redundansi, mempercepat layanan, dan menghadirkan pasokan energi yang andal dari Sabang sampai Merauke,” ujar Simon dalam keterangan tertulis, Kamis, 5 Februari 2026.
Dengan sistem yang terintegrasi, koordinasi antarfungsi dapat berlangsung lebih cepat, pengambilan keputusan menjadi lebih efektif, serta investasi dapat diarahkan secara optimal.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron juga menegaskan langkah ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung Asta Cita swasembada energi.
"Integrasi bisnis hilir berlaku per 1 Februari 2026 ini bukan sekadar perubahan organisasi, melainkan upaya penguatan fondasi untuk menjadikan Pertamina sebagai soko guru bangsa dalam penyediaan energi. Dengan proses bisnis yang lebih efisien dan terintegrasi, kami memastikan pelayanan energi kepada masyarakat Indonesia semakin optimal dan tangguh dalam menghadapi tantangan global," tutur Baron.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News