Batam. Foto: Kemenpar.
Batam. Foto: Kemenpar.

Batam Siapkan Kawasan Ekspor UMKM 80 Hektare, Gandeng Jawa Timur dan Bank Jatim

Arif Wicaksono • 30 Oktober 2026 09:23
Ringkasnya gini..
  • Batam tengah menyiapkan kawasan khusus untuk mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menembus pasar internasional.
  • Melalui program Batam Maju, Gugus Tugas Batam Maju menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Bank Jatim untuk mengembangkan kawasan produksi dan ekspor UMKM seluas 80 hektare.

Surabaya: Batam tengah menyiapkan kawasan khusus untuk mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menembus pasar internasional. Melalui program Batam Maju, Gugus Tugas Batam Maju menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Bank Jatim untuk mengembangkan kawasan produksi dan ekspor UMKM seluas 80 hektare.

Program yang berada di bawah arahan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra tersebut dirancang sebagai pusat pengembangan usaha terpadu. UMKM nantinya tidak hanya memperoleh fasilitas produksi, tetapi juga pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk hingga mengakses jaringan perdagangan internasional.
 

Anggota Gugus Tugas Batam Maju sekaligus Tenaga Ahli Investasi BP Batam, (Cand.) Billy Mambrasar, mengatakan kawasan ini diharapkan dapat mengatasi berbagai hambatan yang selama ini dihadapi UMKM ketika ingin melakukan ekspor.

Menurut dia, persoalan yang kerap muncul meliputi pemenuhan standar kualitas, kelengkapan dokumen perdagangan, hingga keterbatasan kapasitas logistik. Melalui kawasan terpadu, berbagai kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dalam satu ekosistem usaha.

"Semua UMKM itu akan berproduksi bersama dalam satu wilayah dengan fasilitas yang disediakan oleh BP Batam. Di sini langsung terkoneksi dengan logistik ekspor ke luar negeri. Tiga negara paling utama, paling besar saat ini adalah Singapura, Amerika dan Cina,” ujar Billy.

Kawasan Batam Maju direncanakan memiliki empat klaster usaha, yakni komponen industri, makanan olahan hasil laut, produk konsumen, serta elektronik. Setiap klaster akan didukung fasilitas produksi bersama, infrastruktur logistik, dan pusat pelatihan.

Ketersediaan fasilitas tersebut diharapkan membuat UMKM dapat menggunakan mesin produksi dan layanan pengujian mutu tanpa harus mengeluarkan investasi besar untuk membeli peralatan sendiri.

Billy menjelaskan, konsep pengembangan kawasan juga diarahkan untuk menekan biaya operasional dan investasi pelaku usaha. Dengan demikian, UMKM bisa lebih fokus meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pasar.

Dukungan insentif serta promosi produk juga menjadi bagian dari strategi pengembangan kawasan. Salah satu peluang yang ingin dimanfaatkan adalah arus wisatawan mancanegara ke Batam yang dapat diarahkan untuk mengenal dan membeli produk unggulan UMKM.

"Menteri Ekonomi Kreatif ini sangat mendukung sekali. Ada insentif yang mempermudah mereka berusaha. Kita mengurangi CapEx (Capital Expenditure), kita mengurangi OpEx (Operating Expenditure), dan kita memberikan nilai tambah logistik, dan kita meningkatkan promosi karena turis asing yang datang, kita mengarahkan mereka ke situ," kata Billy.

Dari sisi ekonomi, pengembangan kawasan tersebut diproyeksikan memiliki potensi ekspor yang cukup besar. Model awal bisnis Batam Maju memperkirakan nilai ekspor bruto mencapai USD21 juta pada tahun pertama dan meningkat menjadi USD105 juta pada tahun kelima.

Adapun potensi ekspor tahunan diperkirakan berada pada kisaran USD47 juta hingga USD190 juta. Untuk merealisasikan pengembangan kawasan, kebutuhan investasi fisik diperkirakan mencapai Rp225 miliar, belum termasuk biaya pengadaan lahan.

Selain investasi infrastruktur, kawasan ini membutuhkan dukungan modal kerja bergulir sekitar Rp250 miliar hingga Rp450 miliar agar kegiatan produksi dan perdagangan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kolaborasi dengan Jawa Timur menjadi salah satu strategi untuk memperkuat pasokan bahan baku sekaligus memperluas keterlibatan UMKM antardaerah.

Kepala Bidang Ekonomi dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur, Andrio Himawan Wahyu Aji, mengatakan pihaknya melihat peluang untuk menghubungkan UMKM di Jawa Timur dengan pelaku usaha dan eksportir yang beroperasi di Batam.

Melalui skema tersebut, UMKM Jawa Timur berpotensi memasok bahan baku yang selanjutnya diolah di Batam menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan ke luar negeri.

Bank Jatim juga disiapkan untuk mendukung ekosistem kerja sama tersebut. Perannya mencakup penghubung antara pelaku usaha, pemanfaatan platform Link and Match, serta penyediaan pembiayaan modal kerja dengan skema berbasis pesanan.

Andrio menyambut positif rencana sinergi tersebut. Dia berharap kerja sama ini dapat membuka saluran pemasaran baru bagi produk UMKM Jawa Timur sekaligus memperluas kesempatan usaha bagi para pelaku bisnis daerah.

“Ini sinergi yang luar biasa kalau bisa terwujud. Mereka kita kumpulkan, para pelaku UMKM ini bisa untuk menyalurkan produknya di Kawasan Batam Maju ini. Pada intinya kami senang sekali ada kolaborasi ini,” ujar Andrio.

Pengembangan Batam Maju akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan hasil studi kelayakan dan kebutuhan pasar. Pada tahap pertama, pengelola menargetkan pendataan sebanyak 200 calon tenant atau pelaku usaha yang akan menempati kawasan tersebut.

Sementara itu, pembangunan fisik tahap awal diperkirakan mencakup lahan seluas 25 hektare hingga 30 hektare dari total rencana pengembangan 80 hektare.

Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya dilihat dari besarnya nilai ekspor. Peningkatan kemampuan produksi UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta semakin luasnya keterlibatan pelaku usaha lokal juga menjadi indikator penting.

Selain menjadi pusat produksi dan perdagangan, Batam Maju turut diarahkan sebagai destinasi wisata industri dan promosi produk unggulan Indonesia. Potensi kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk UMKM kepada konsumen internasional.

Dengan menggabungkan fasilitas produksi, pembiayaan, akses bahan baku, dan jaringan ekspor, kawasan ini diharapkan menjadi salah satu pintu masuk bagi UMKM Indonesia untuk meningkatkan daya saing di pasar global.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan